10,64% Sahamnya Dibanderol Rp 23 T, Ini Hitung-hitungan Freeport

10,64% Sahamnya Dibanderol Rp 23 T, Ini Hitung-hitungan Freeport

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 20 Jan 2016 15:14 WIB
10,64% Sahamnya Dibanderol Rp 23 T, Ini Hitung-hitungan Freeport
Foto: Istimewa/Puspa Perwitasari
Jakarta - Dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR siang ini, PT Freeport Indonesia dicecar oleh para anggota dewan karena membanderol 10,64% sahamnya kepada pemerintah Indonesia dengan harga US$ 1,7 miliar, atau sekitar Rp 23 triliun.

Freeport pun akhirnya membeberkan dasar perhitungan dari penetapan harga saham tersebut. Harga tersebut ditetapkan dengan asumsi kontrak Freeport di Papua diperpanjang hingga 2041.

Selain itu, diperhitungkan juga total investasi yang telah dikeluarkan Freeport selama puluhan tahun di Tambang Grasberg sebesar US$ 4,3 miliar. Kemudian investasi US$ 15 miliar yang akan digelontorkan Freeport untuk tambang bawah tanah Grasberg hingga 2041.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga saham yang kami tawarkan mengasumsikan perpanjangan operasi setelah 2021, selain investasi US$ 4,3 miliar yang sudah kita keluarkan. Ditambah US$ 15 miliar untuk investasi yang akan kita keluarkan," kata Direktur Freeport, Clementino Lamury, dalam RDP dengan Komisi VII di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/1/2016).

Harga ini dinilai tidak masuk akal oleh para anggota dewan. Ramson Siagian, anggota Komisi VII DPR, mengungkapkan nilai saham Freeport McMoRan Inc, perusahaan induk PT Freeport Indonesia di Amerika Serikat yang listing di Bursa Saham New York, hanya US$ 4,8 miliar. "Market value Freeport hanya US$ 4,8 miliar," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN, Rini Soemarno, juga menyebut harga saham yang ditawarkan Freeport kemahalan. Dengan harga komoditas pertambangan yang sedang anjlok dalam beberapa tahun terakhir, menurut Rini, harusnya harga saham Freeport bisa jauh lebih rendah.

"Freeport penawarannya ditawarkan ke pemerintah. Kami sudah minta masukan dari Danareksa, Mandiri Sekuritas. Memang kalau saya lihat saat ini harganya menurut saya terlalu tinggi," tutur Rini.

Rini mengatakan, dirinya belum mengetahui fundamental yang menjadi dasar penetapan harga tersebut. "Saya juga belum mengetahui nilai itu didasarkan atas apa? Apakah berdasarkan kondisi permodalan mereka. Atau kondisi harga komoditas, atau seperti apa? Karena kalau kita lihat dari harga komoditas, harga cooper (tembaga) turun, jatuh sangat banyak," papar Rini.

"Jadi dengan kondisi itu, menurut saya harganya terlalu tinggi," imbuh Rini. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads