Izin ekspor konsentrat PT Freeport Indonesia habis pada hari ini. Namun, perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat tersebut terancam tidak bisa mengekspor lagi karena belum membangun fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) sampai saat ini.
Kementerian ESDM pun memberikan syarat jika Freeport ingin tetap bisa melakukan ekspor, yaitu Freeport harus membayar dana sebesar US$ 530 juta sebagai bukti komitmen pembangunan smelter.
Namun sampai hari ini belum ada tanggapan dari Freeport. Bila tidak ada tanggapan yang jelas dan syarat tersebut tidak dipenuhi, maka βizin ekspor konsentrat yang berakhir pada hari ini tidak akan diperpanjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya memang tidak memberikan deadline pembayaran bagi Freeport. Tetapi selama dana sebesar US$ 530 juta belum dibayarkan kepada pemerintah, Freeport tidak akan mendapatkan izin ekspor konsentrat.
"Nggak ada batas pembayaran. Pokoknya kalau syarat itu dipenuhi, izin ekspor dikeluarkan," tandas Bambang.
β
Sebagai informasi, izin PT Freeport Indonesia untuk mengekspor konsentrat tembaga habis pada 25 Januari 2016. Pemerintah mengajukan syarat kepada Freeport jika perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu ingin memperpanjang izin ekspor.β
Syarat itu adalah, PT Freeport harus menyetor sejumlah dana jaminan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengatakan, besaran dana tersebut setara dengan biaya yang seharusnya dikeluarkan PT Freeport untuk membangun smelter tembaga yang ditetapkan Pemerintah.
"Karena target pencapaian (pembangunan) smelter ini belum tercapai, maka kita meminta Freeport harus menyetor uang yang harusnya di-spend (dikeluarkan) untuk membangun smelter," kata Sudirman.
Sudirman mengatakan, pembangunan smelter Freeport seharusya telah mencapai 60% pada Januari 2016. Namun kenyataannya, Freeport baru merealisasikan 14%, termasuk uang setoran senilai US$ 115β juta atau setara Rp 1,61 triliun (kurs Rp 14.000/US$) yang telah diserahkan tahun lalu.
β"Jadi meskipun secara fisik belum terbangun, tapi paling tidak secara komitmen dibuktikan dengan menyetor uang senilai tersebut berarti Freeport telah membuktikan komitmennya," tutur dia.
Total biaya yang diperlukan untuk membangun smelter di Gresik, Jawa Timur yang akan dilakukan PT Freeport Indonesia diperkirakan mencapai US$ 2,3 miliar.Freeport sebelumnya telah menyetor dana kesanggupan sebesar 5% dari perkembangan pembangunan Smelter tersebut dengan nilai US$115 jutaβ.
(hns/hns)










































