Namun, kini harga minyak mulai naik. Harga minyak melonjak 9% dalam sehari. Ini merupakan lonjakan terbesar sejak Agustus 2015. Harga minyak menyentuh level US$ 32,19/barel pada Jumat (22/1/2016) pekan lalu. Ini merupakan rebound yang cukup dramatis.
Padahal, di hari Rabu (20/1/2016), harga minyak mentah terperosok hingga US$ 26,19/barel. Ini merupakan level terendah sejak April 2003. Sejak itu, harga minyak dunia berbalik arah, melonjak hingga 23% ke level US$ 32,19/barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melambungnya harga minyak ini tidak terelakkan. Harga minyak tidak bergerak satu arah. Pasti berputar," kata Darin Newsom, analis komoditas senior di DTN, seperti dilansir CNN.com, Senin (25/1/2016).
Ini juga merupakan momentum baik, saat harga minyak naik 4,2% pada Kamis (21/1/2016), yang merupakan lonjakan terbesar sejak 28 Oktober 2015.
Melonjaknya harga minyak ini berdampak positif bagi pasar saham. Indeks Dow Jones melonjak lebih dari 200 poin pada Jumat (22/1/2016), dengan saham energi memimpin kenaikan tertinggi.
Saham BP (BP) dan ExxonMobil (XOM) membukukan keuntungan yang fantastis, sementara saham Williams Companies (WMB) melonjak 20% .
Namun, Newsom mengatakan, masih ada kemungkinan harga minyak kembali merosot. Pasokan minyak dunia masih berlimpah, diikuti perlambatan permintaan dari China karena ekonominya tengah melambat.
Newsom memperkirakan, harga minyak dunia masih akan menurun, hingga di bawah US$ 10/barel, level terendah sejak November 2001 .
(drk/drk)











































