Pemerintah Disarankan Beli Perusahaan Induk Freeport di AS

Pemerintah Disarankan Beli Perusahaan Induk Freeport di AS

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 25 Jan 2016 16:53 WIB
Pemerintah Disarankan Beli Perusahaan Induk Freeport di AS
Foto: Istimewa/Puspa Perwitasari
Jakarta - Harga 10,64% saham PT Freeport Indonesia yang ditawarkan kepada pemerintah Indonesia cukup mahal, yaitu US$ 1,7 miliar atau Rp 23 triliun. Ada usulan agar pemerintah langsung membeli saham induk usaha Freeport di Amerika Serikat (AS).

Anggota Komisi VII DPR, Ramson Siagian, membandingkan harga saham PT Freeport Indonesia dengan saham induk usahanya di AS, yaitu Freeport McMoRan Inc yang ternyata lebih murah.

Ramson menyebutkan, nilai kapitalisasi pasar saham Freeport McMoRan Inc di New York Stock Exchange hanya US$ 4,71 miliar. Tidak masuk akal bila nilai 10,64% saham anak usahanya di Indonesia sampai US$ 1,7 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, Ramson menyarankan agar sebaiknya pemerintah Indonesia melalui BUMN, membeli saham Freeport McMoRan Inc saja ketimbang anak usahanya yang dibanderol sangat mahal di Indonesia.

"Saya usulkan kalau memang pemerintah mau memperpanjang operasi Freeport Indonesia, sebenarnya langsung investasi saja di Freeport McMoRan. Di situlah BUMN langsung masuk ke market. Sehingga perencanaan lebih lanjut, pemerintah melalui BUMN terlibat dalam pengambilan keputusan di bursa saham New York," kata Ramson dalam rapat kerja dengan Menteri ESDM, Sudirman Said, di Gedung DPR, Jakarta, Senin (25/1/2016).

Menjawab usulan itu, Sudirman Said mengatakan, pihaknya tak bisa melakukan hal tersebut karena Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 77 Tahun 2014 (PP 77/2014) hanya mengatur divestasi saham PT Freeport Indonesia.

Tetapi, bisa saja BUMN membeli saham induk perusahaan Freeport di AS. Aksi korporasi tersebut merupakan kewenangan dari Kementerian BUMN, bisa saja dilaksanakan bila Kementerian BUMN memerintahkannya.

"Itu tidak bisa kami lakukan, karena PP tidak mengatur demikian. Bila Kementerian BUMN berpikir lebih strategis seperti itu, itu di luar domain kami," tutup Sudirman. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads