Ada PHK di Sektor Migas, Menteri ESDM: Kita Paham Situasi Sulit

Ada PHK di Sektor Migas, Menteri ESDM: Kita Paham Situasi Sulit

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2016 18:42 WIB
Ada PHK di Sektor Migas, Menteri ESDM: Kita Paham Situasi Sulit
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Anjloknya harga minyak dunia hingga ke kisaran US$ 30/barel membuat perusahaan-perusahaan minyak mengetatkan anggaran. Salah satu langkah efisiensi yang dilakukan adalah pengurangan karyawan, alias Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Menteri ESDM, Sudirman Said, mengaku paham dengan kesulitan yang dialami perusahaan-perusahaan migas ini. Pihaknya bersama dengan SKK Migas terus berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi.

"Kita paham situasi sulit. Pak Amien (Amien Sunaryadi, Kepala SKK Migas) dan Pak Wirat (Wiratmaja Puja, Dirjen Migas Kementerian ESDM) terus komunikasi dengan KKKS," kata Sudirman, saat ditemui di Badiklat ESDM, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihaknya berupaya membantu perusahaan-perusahaan migas yang beroperasi sebagai KKKS di Indonesia dengan menyiapkan insentif. Penurunan harga minyak dunia, sambungnya, dapat berlanjut hingga bertahun-tahun lagi sehingga perlu ada kebijakan dari pemerintah untuk membantu para KKKS.

"Kami sedang lihat seluruh regulasi, feeling saya dengan harga rendah ini tetap akan banyak perusahaan yang berpikir ulang (untuk investasi baru) dan sudah mulai terasa (dampak penurunan harga minyak)," ucapnya.

Namun, sampai saat ini belum ada kebijakan yang diputuskan pemerintah untuk membantu industri migas nasional. Sudirman sendiri mengusulkan agar pendapatan bagian KKKS dalam Production Sharing Contract (PSC/kontrak bagi hasil) diperbesar selama harga minyak masih rendah.

"Ini respons yang tidak bisa diberikan secara instan. Karena kalau pun diberikan kebijakan maka proses akan panjang. Kita akan antisipasi namun juga belum ada keputusan untuk berikan insentif. Dan bayangan saya split seperti apa sedang disiapkan," cetusnya.

Sampai saat ini, produksi minyak nasional belum begitu terpengaruh oleh merosotnya harga minyak dunia. Dampak signifikan dari penurunan harga minyak ini kemungkinan baru akan mulai dirasakan Indonesia pada tahun depan akibat minimnya investasi baru untuk eksplorasi migas pada tahun ini.

"Tahun ini mungkin pengaruhnya (penurunan harga minyak) sedikit. Karena itu rencana yang sudah diset. Mungkin impact-nya baru tahun depan," tutup Sudirman. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads