Melihat fenomena ini, Menteri Koordinator dan Sumber Daya, Rizal Ramli menyebut kondisi ini terjadi di semua perusahaan migas di seluruh dunia. Kondisi ini dipicu oleh anjloknya harga minyak mentah dunia hingga berada kisaran US$ 30 per barel.
"Ini terjadi di seluruh dunia, konsolidasi dari seluruh industri migas. Banyak melakukan pengurangan tenaga kerja. Kita sendiri sudah hitung dampaknya," kata Rizal di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau 30 tahun lalu 85% dari migas dan 15% pajak, sekarang kebalik. Pajak itu lebih dari 80% dan sisanya migas. Memang akan ada dampaknya tetapi karena share daripada industri migas sudah lebih mengecil," jelasnya.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap industri migas di tanah air. Pemerintah akan memberikan banyak insentif di tengah lesunya industri migas.
"Kita sedang mempertimbangkan kebijakan untuk memberikan lebih banyak insentif untuk industri minyak," sebutnya.
Dengan insentif ini, pemerintah bermaksud agar perusahaan KKKS bisa menggenjot eksplorasi sumber migas.
"Ini dipakai untuk meningkatkan eksplorasi dan nanti pada saat minyak mentah reborn kembali 2-3 tahun. Kita malah menarik manfaat karena cadangan semakin besar," ujarnya. (feb/hns)











































