"Bapak-bapak, investasi di sini aman, karena ruang tumbuh masih besar dan upaya yang kuat mengejar target bersama-bersama," ungkap Sudirman, dalam penandatanganan nota kesepahaman dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di kantor pusat OJK, Jakarta, Rabu (3/2/2016). Acara ini dihadiri oleh beberapa perusahaan sektor keuangan.
Sudirman menambahkan, rasio elektrifikasi Indonesia berada di level 87%, dan ditargetkan menuju 99% pada 2019. Sebanyak 6 provinsi masih sulit mendapatkan akses listrik, dengan 70% berada di wilayah timur Indonesia. Di antaranya Papua, Maluku, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tentu saja, upaya tersebut tidak cukup bila dipenuhi dengan energi konvensional. Tanpa ada temuan baru, maka minyak akan habis sekitar 15 tahun lagi, gas selama 30 tahun, dan batu bara selama 60-70 tahun ke depan.
"Maka tak ada jalan lagi selain untuk ngebut pengambangan EBTKE dengan kapasitas terpasang sekarang 53.000 MW. Dan hitung-hitungan kita punya potensial 300.000 MW. Jadi 5-6 kali lipat lagi," papar Sudirman.
Pemanfaatan EBTKE saat ini baru mencapai 6-7% dari potensi yang ada. Sesuai target pemerintah, pada 2025 harus bisa mencapai 23%. Itu membutuhkan investasi setidaknya Rp 1.300 - Rp 1.600 triliun. Sementara dana APBN yang tersedia oleh APBN hanya Rp 2 triliun per tahun.
"Kita disebut sebagai raksasa energi karena masih ada dua-duanya. Ada energi fosil dan ada energi terbarukan sebagai komoditas masa depan," tukasnya. (mkl/wdl)











































