RI Punya 280.000 Ton Thorium, Apa Saja Tantangan Pengembangannya?

RI Punya 280.000 Ton Thorium, Apa Saja Tantangan Pengembangannya?

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 04 Feb 2016 12:47 WIB
RI Punya 280.000 Ton Thorium, Apa Saja Tantangan Pengembangannya?
Foto: dikhy sasra
Jakarta - Indonesia kaya akan cadangan nuklir. Selain memiliki cadangan 70.000 ton uranium, Indonesia juga memiliki 210.000-280.000 ton thorium. Thorium yang tergolong nuklir ramah lingkungan merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sedang dilirik Indonesia. Namun, ada sejumlah tantangan dalam mengembangkan thorium.

Pertama, thorium tidak dapat berdiri sendiri sebagai bahan bakar. Thorium membutuhkan uranium 235 agar dapat dikonversi menjadi uranium 232 dan siap digunakan sebagai sumber energi. Maka pengembangan thorium mau tak mau harus lebih dulu dimulai dengan pengembangan uranium.

"Dalam road map BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), yang pertama kita gunakan uranium baru setelah itu thorium. Thorium itu tidak bisa langsung dibakar. Thorium harus dibakar dengan uranium 235, kemudian thorium berubah menjadi uranium 232. Jadi thorium itu harus dijadikan uranium dulu," papar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua, pemanfaatan thorium untuk energi masih membutuhkan waktu yang lama. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. "Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," ujar Djarot.

Ketiga, adalah kurangnya dana untuk penelitian dan pengembangan thorium. Untuk pendataan potensi thorium saja dibutuhkan Rp 3 miliar per tahun. Lalu untuk penelitiannya dari awal hingga akhir diperkirakan dibutuhkan dana US$ 299 juta atau Rp 3,9 triliun.

Meski begitu, penelitian dan pengembangan harus terus dilakukan karena thorium merupakan sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan, hanya saja butuh waktu, komitmen, dan upaya keras.

"Indonesia harus melakukan penelitiannya dan itu tugas BATAN. Kendalanya adalah dana. Kita fokus mendata ada dimana saja thorium di Indonesia, butuh Rp 3 miliar per tahun untuk cari potensinya. Kemudian untuk penelitian sampai jadi biayanya mungkin US$ 299 juta," tutupnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads