Alhasil, thorium tak dapat disalahgunakan untuk tujuan persenjataan, dan juga aman sebagai sumber energi.
"Ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai senjata. Lebih aman," ujar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam roadmap BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), yang pertama kita gunakan uranium baru setelah itu thorium. Thorium itu tidak bisa langsung dibakar. Thorium harus dibakar dengan uranium 235, kemudian thorium berubah menjadi uranium 232. Jadi thorium itu harus dijadikan uranium dulu," jelas Djarot
Pengembangan thorium untuk bahan bakar pembangkit listrik sebenarnya sudah dimulai di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1965. AS memanfaatkan thorium dalam bentuk cair yang disebut Molten Salt Reactor (MSR). MSR telah beroperasi selama 20.000 jam (4 tahun) tanpa ada masalah.
Namun, program tersebut dihentikan oleh AS yang lebih memilih uranium karena reaksi fissinya dapat menghasilkan plutonium, yang dibutuhkan untuk pengembangan persenjataan berbahan baku nuklir.
Pemanfaatan thorium untuk energi masih membutuhkan waktu yang lama hingga beberapa dekade ke depan. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.
"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. "Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," pungkasnya. (hns/hns)











































