"Kalau terintegrasi dengan petrokimia itu,Β sekitar di atas US$ 10 miliar, yaitu Bontang US$ 14 miliar dan Tuban US$ 13 miliar," ungkap Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/2/2016)
Bila dikonversi dengan nilai tukar sekarang, nilai investasi mencapai di atas Rp 100 triliun untuk satu kilang. Pembangunan kilang tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pertamina sebagai penanggung jawab, mengundang investor untuk menanamkan modal dalam pembangunan kilang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kilang yang dibangun, kata Edwin memang tidak hanya berhenti di industri hulu, namun juga sampai ke hilir. Agar memiliki nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan.
"Jadi cukup masif. Kita nggak mau juga berhenti sampai di BBM saja, tapi sampai industri hilir. Karena value added-nya (nilai tambah) di situ. Di petrokimia," terangnya. (mkl/wdl)











































