Kilang Bontang Ditargetkan Dibangun Tahun Depan dan Selesai di 2022

Kilang Bontang Ditargetkan Dibangun Tahun Depan dan Selesai di 2022

Maikel Jefriando - detikFinance
Selasa, 09 Feb 2016 12:02 WIB
Kilang Bontang Ditargetkan Dibangun Tahun Depan dan Selesai di 2022
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Salah satu pembangunan kilang yang disiapkan oleh pemerintah berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). PT Pertamina (Persero) ditunjuk sebagai penanggung jawab oleh pemerintah, dan akan bekerjasama dengan investor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, menargetkan tahun depan sudah mulai groundbreaking atau peletakan batu pertama dan selesai pada 2022.

"Kita ingin tahun depan sudah groundbreaking dan kontruksi," tegas Sudirman, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/2/2016)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 4/2016 dan menentapkan Bontang sebagai proyek prioritas nasional. Maka selanjutnya, tahapan yang dilakukan adalah menetapkan konsultan independen oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk lelang investor.

Proses ini ditargetkan selesai Oktober 2016. Menurut Sudirman, rencana pembangunan sudah diketahui sejak lama oleh investor. Sehingga saat lelang dibuka, maka tidak akan butuh lama untuk memutuskan.

"Begitu Menkeu menunjuk konsultan internasional, maka Pertamina sudah bisa bekerja didampingi tim ini untuk melakukan lelang," imbuhnya.

Dari sisi lahan juga sudah tidak ada permasalahan. Sudirman menyebutkan, lahan seluas 600 hektar telah mendapat sertifikasi. Kemudian infrastruktur pendukung lainnya, seperti jalan, listrik dan pelabuhan juga tersedia.

"Kalau fokus Bontang sudah sangat siap. Ibarat bangun kilang dari titik 1-10, maka di Bontang sudah sampai 5 karena lahan sudah tersedia, infrastruktur memadai dan tersedia," kata Sudirman.

"Seluruh fasilitas ini bisa dipakai dengan skema kerjasama pemanfaatan infrastruktur dengan biaya nol rupiah. Investor yang ambil ini tidak akan dikenakan biaya, karena itu akan mengurangi investasi secara signifikan," terangnya.

Pemerintah juga menyiapkan insentif pajak yaitu berupa tax holiday sampai dengan 10 tahun. Besar kemungkinan untuk digeser ke 15 tahun, sesuai dengan kebutuhan investor.

"Tax holiday bisa dipertimbangkan diperpanjang sampai 15 tahun, sekarang kan 10 tahun. Mudah-mudahan dengan ini kita bisa segera dapatkan investor serius. Sehingga kekhawatiran shortage suplai BBM bisa diatasi industri petrokimia, bisa didorong ke depannya," papar Sudirman. (mkl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads