Dia menuturkan, lahan seluas 3.000 hektar (ha) telah disiapkan untuk smelter Freeport. Katanya, pembebasan lahan ini sudah dilakukan pemerintah, Freeport tak perlu pusing.
Smelter yang dibangun juga tidak akan kekurangan listrik karena akan dibangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Pomako dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Rumoko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menambahkan, sumber daya manusia (SDM) untuk tenaga kerja di smelter juga berlimpah, banyak putra daerah Papua yang sudah berpendidikan tinggi. Bila putra-putra daerah ini tak diberi pekerjaan, akan timbul masalah sosial di Papua dan bisa semakin mendorong gerakan separatis.
"Bangun smelter di Papua itu harus dilaksanakan. Kalau dibilang kekurangan SDM, itu tidak ada alasan, kami anak-anak Papua yang angkatan 1980-an itu sudah sarjana, malah banyak yang S2 dan S3 sekarang mereka tidak punya kerja. Karena tidak punya kerja maka mereka minta merdeka," tuturnya.
Pihaknya menyebut ada 6.000 putra daerah Papua yang bersekolah di luar negeri. Ribuan pemuda ini tentu membutuhkan lapangan pekerjaan saat pulang ke Papua. Karena itu, perlu dibangun smelter yang dapat menyerap banyak tenaga kerja di Papua.
"Kita sudah kirim 6.000 anak Papua sekolah ke luar negeri. Itu pulang mau kerja apa? Makanya kita harus siapkan. Freeport bangun smelter," tukas dia.
Menurutnya, tak ada alasan lagi bagi Freeport untuk tidak membangun smelter di Papua. Daripada membangun smelter di Gresik, lebih baik smelter dibangun di Papua agar membawa banyak manfaat bagi masyarakat sekitar.
"Kalau Freeport tidak mau, jangan perpanjang kontraknya, lebih baik kita cari investor lain saja yang mau," tandas Eltinus.
Sebagai informasi, Menteri ESDM, Sudirman Said, pernah menjelaskan soal sulitnya membangun smelter di Papua saat ini. Bahkan Sudirman meragukan adanya rencana investor asal China untuk membangun smelter di tanah cendrawasih tersebut.
Menurut Sudirman, pembangunan smelter perlu perencanaan yang matang, terutama pasokan listrik dan infrastruktur penunjang lainnya. "Bangun smelter itu lama dan tak mudah, belum lagi bicara kelayakan, Papua masih kekurangan listrik dan lokasi pembangunan juga belum jelas," tegas Sudirman akhir tahun lalu. (hns/hns)











































