Sejumlah Proyek Energi Terbarukan Rp 47 Triliun Diteken di Bali

Sejumlah Proyek Energi Terbarukan Rp 47 Triliun Diteken di Bali

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 11 Feb 2016 15:15 WIB
Sejumlah Proyek Energi Terbarukan Rp 47 Triliun Diteken di Bali
Foto: Michael Agustinus
Nusa Dua - Kementerian ESDM bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA) menggelar Bali Clean Energy Forum (BCEF) di Bali Nusa Dua Convention Center, Nusa Dua, Bali pada 11-12 Februari 2016.

Forum yang membahas kerja sama untuk pengembangan energi terbarukan ini dihadiri oleh pejabat dari 26 negara dan dibuka langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)

Hadir juga lebih dari 700 pengusaha nasional dan internasional. Para pengusaha dari dalam dan luar negeri ini memang sengaja diundang untuk berinvestasi di bidang usaha energi terbarukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebab, pengembangan energi terbarukan membutuhkan dana yang amat besar, tidak bisa seluruhnya ditanggung oleh pemerintah.

"Forum ini menawarkan banyak kesempatan untuk bersama-sama bekerja di bidang ini. Dibutuhkan investasi yang sangat besar, baik dari dalam maupun luar negeri. Saya mengundang para pengusaha yang bekerja di sini, pemerintah menjanjikan dipermudah dengan berbagai kebijakan," kata JK saat membuka BCEF di BNDCC, Bali, Kamis (11/2/2016).

Menteri ESDM Sudirman Said menambahkan bahwa berbagai kesepakatan untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia dengan total nilai Rp 47,2 triliun akan diteken dalam acara BCEF ini.

Kesepakatan senilai Rp 47,2 triliun tersebut mencakup berbagai proyek, terutama pembangunan pembangkit listrik panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), dan terminal Liquid Natural Gas (LNG). Proyek-proyek tersebut akan menyerap 18.300 orang tenaga kerja.

"Forum bisnis akan menandatangani berbagai transaksi senilai Rp 47,2 triliun. Antara lain untuk PLTP, PLTS, dan pengembangan terminal LNG masing-masing 765,5 MW, 150 MW, dan 125.000 m3. Ini membutuhkan 18.300 tenaga kerja," ucapnya.

Kata Sudirman, Indonesia masih membutuhkan investor asing untuk mengembangkan energi terbarukan. Selain biaya yang besar, energi terbarukan juga memerlukan teknologi tinggi untuk penggunaannya. Bantuan dari negara-negara lain diharapkan bisa diperoleh melalui pertemuan BCEF.

"Tidak ada satu pun negara yang mampu memenuhi kebutuhan energi sendirian, karena itu kolaborasi menjadi amat penting," tutupnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads