Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 16 Feb 2016 16:28 WIB

Dibangun Investor China Rp 9 T, PLTU Celukan Bawang Penting Untuk Listrik Bali

Dina Rayanti - detikFinance
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Selama 12 tahun lamanya, investor China, yaitu China Huadian Engineering Co. Ltd (CHEC), membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Celukan Bawang senilai US$ 700 juta atau sekitar Rp 9 triliun. PLTU ini penting untuk listrik Bali.

Plt. Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, Agung Murdifi mengatakan, PLTU berkapasitas 380 megawatt (MW) ini sangat penting bagi sistem kelistrikan Bali, untuk mengantisipasi lonjakan konsumsi listrik, dan sangat strategis terhadap pemenuhan pasokan daya listrik di Provinsi Bali.

"Mengingat Provinsi Bali merupakan tujuan wisata dan mendapatkan peringkat nomor 2 untuk tujuan wisata dunia, keandalan listrik dan suplai listrik yang mencukupi sangat berpengaruh besar untuk mendukung potensi pariwisata," tambah Agung dalam keterangannya, Selasa (16/2/2016).

Untuk menyalurkan listrik dari PLTU ini, PLN telah membangun Kabel Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kilo Volt (kV) Celukan Bawang. SUTT Celukan Bawang menyalurkan pasokan listrik  dari PLTU dengan daya mampu hingga 380 MW, ke dalam sistem interkoneksi listrik Jawa-Bali.

Agung mengatakan, keberadaan SUTT 150 kV Celukan Bawang ini sangat vital untuk menjaga keberlangsungan penyaluran listrik dari PLTU Celukan Bawang ke Gardu Induk, mengingat hingga kini sistem interkoneksi di Bali masih menggunakan 150 kV .

Berbeda dengan Jawa yang sudah menggunakan sistem jaringan interkoneksi 500 kV, di Bali sistem interkoneksi masih menggunakan 150 kV. Sehingga apabila terjadi gangguan pada jaringan 150 kV ini, maka daya yang dihasilkan pembangkit tidak dapat disalurkan untuk melayani beban atau pelanggan, sehingga terjadi kekurangan pasokan daya listrik.

"Dari sisi pembangunan jaringan SUTT 150kV yang telah dibangun oleh PLN telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan standar kesehatan International WHO, baik mengenai tinggi tower maupun ruang bebasnya sehingga dipastikan tidak berbahaya bagi lingkungan," ujar Agung.

Di samping itu pada saat jaringan tersebut sudah beroperasi dan menyalurkan tenaga listrik, PLN juga selalu melakukan pemeliharaan secara rutin guna menjaga keandalan dan keamanan pengoperasiannya. Dengan demikian, kata Agung, tidak benar anggapan dari sebagian masyarakat, medan magnet dan medan listrik yang timbul di bawah jaringan membahayakan kesehatan dan lingkungan.

"Keberadaan SUTT 150 kV Celukan Bawang ini sangat penting untuk menyalurkan listrik dari pembangkit terbesar di Bali yakni Celukan Bawang, tentu saja dalam pembangunannya sudah kami sesuaikan dengan standart keamanan  perundang-undangan dan juga standar kesehatan International WHO , sehingga bisa dipastikan aman bagi warga yang tinggal dibawah SUTT, selain itu PLN juga sangat konsern terhadap warga sehingga setiap detil aspek keselamatan dan kesehatan bagi warga sekitar selalu diperhatikan," ujar Agung.

Sistem Kelistrikan di Bali memiliki daya mampu sekitar 950 MW, yang disuplai dari pembangkit PLN Gilimanuk, Pesanggaran, dan Pemaron dengan total 570 MW ditambah suplai dari PLTU IPP Celukan Bawang sekitar 380 MW. Beban puncak sistem pada malam hari sekitar 800 MW sehingga masih ada surplus sekitar 150 MW. Walaupun daya mampu saat ini masih surplus, namun untuk menjaga keandalannya sistem Bali saat ini masih disuplai dari Jawa melalui Kabel Laut.

Dengan telah beroperasinya PLTU Celukan Bawang 380 MW berbahan bakar batu bara, pembangkit lain yang menggunakan bahan bakar minyak diposisikan sebagai cadangan karena biaya operasinya sangat mahal. (wdl/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com