Saat ini sudah ada 8.000 rumah tangga yang dapurnya tersambung dengan jargas milik anak perusahaan Pertamina, PT Pertagas di Prabumulih. Hingga akhir tahun 2016, Kementerian ESDM menargetkan sudah ada 34.626 sambungan baru di kota kaya minyak tersebut, sehingga sekitar 93% warganya sudah menggunakan gas bumi.
Lantas, bagaimana nasib sejumlah pedagang gas elpiji tabung di Kota Prabumulih?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kota-kota yang punya akses Jargas akan kita percepat mendapat aliran gas kota. Di Prabumulih sudah 8.000 terpasang lalu kita kerjakan 32.000. Kalau 40.000 terpasang, jadi 93%. Kita ingin teruskan sampai 100%. Nanti yang melonnya tetap ada, digunakan untuk masyarakat yang lebih ke pinggir, karena nggak ada jaringan gas," kata Sudirman ditemui acara groundbreaking Jargas Prabumulih, Senin (21/3/2016).
Komariah, salah seorang pedagang gas melon di Prabumulih mengungkapkan, dirinya berharap program Jargas tidak berlanjut pada hilangnya gas elpiji di Prabumulih.
"Sudah dengar pakai gas bumi. Saya juga belum pakai gas bumi. Tapi semoga hanya dibatasi saja, soalnya selain warga rumahan yang beli juga pedagang-pedagang keliling. Masa orang dagang pakai gerobak gasnya pakai gas pipa," ujarnya.
Komariah yang seharinya bisa menjual 6 tabung elpiji melon berharap gas melon tak dihapus dari Prabumulih. Dirinya juga tak masalah jika tak lagi harus berjualan tabung melon saat program konversi ke gas bumi sudah berjalan.
"Katanya mau dibatasi saja. Semoga sih ada gas pipa tetap nggak susah cari gas elpiji, kasihan yang jualan keliling, nggak rugi sekali, jualnya tidak banyak," tutupnya. (ang/ang)











































