Beda Hitungan Proyek Masela Versi Investor dan Kemenko Maritim

Beda Hitungan Proyek Masela Versi Investor dan Kemenko Maritim

Hans Henricus BS Aron - detikFinance
Kamis, 24 Mar 2016 14:58 WIB
Beda Hitungan Proyek Masela Versi Investor dan Kemenko Maritim
Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan, proyek kilang LNG (Liquefied Natural Gas) dibangun di darat (onshore). Keputusan presiden ini sesuai dengan kajian dari Kementerian Koordinator (Kemenko) Maritim dan Sumber Daya.

Menurut kalkulasi yang dipaparkan Kemenko Maritim dan Sumber Daya, ongkos proyek LNG di darat lebih murah dibandingkan di laut. Namun, menurut perhitungan investor, yaitu Inpex dan Shell, yang disampaikan ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), justru biaya proyek LNG di darat yang lebih mahal.

Menurut data SKK Migas, kilang onshore LNG menelan biaya US$ 19,3 miliar jika dibangun di Pulau Tanimbar, Kabupaten Tenggara, atau US$ 22,3 miliar jika dibangun di Kepulauan Aru. Berikut rinciannya
  • Wells US$ 1,5 miliar
  • Drill Centers and Flow Lines US$ 1,4 miliar
  • Total Subsea: US$ 2,9 miliar
  • Process Facilities US$ 2,2 miliar
  • Hull US$ 1,4 miliar
  • Mooring System US$ 800 juta
  • Hook Up and Comm. US$ 400 juta
  • Total FPSO: US$ 4,8 miliar
  • Pipeline (Tanimbar) US$ 1,2 miliar atau Pipeline (Aru) US$ 3,6 miliar
  • Process Facilities US$ 5,6 miliar
  • Tank, Jetty US$ 2,8 miliar
  • Civil US$ 1,5 miliar
  • Total OLNG (Tanimbar): US$ 9,9 miliar atau OLNG (Aru) US$ 10,5 miliar
  • Logistic Base US$ 400 Juta

Sedangkan menurut Kemenko Maritim dan Sumber Daya, ongkos proyek kilang LNG di darat sebesar US$ 16 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Angka ini sudah termasuk biaya pengeboran gas, FPSO (Floating Production, Storage and Offloading), pipa dari laut ke Pulau Selaru, dan pembangunan instalasi kilang di darat," ujar Tenaga Ahli Bidang Kebijakan Energi Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Abdulrachim, kepada detikFinance, Kamis (24/3/2016).

Menurut Abdulrachim, salah satu komponen yang harganya berbeda adalah FPSO atau kapal yang berfungsi untuk memisahkan campuran gas dan kondensat. Biaya FPSO menurut kalkulasi SKK Migas adalah US$ 4,8 miliar, sedangkan menurut kalkukasi Kemenko Maritim dan Sumber Daya adalah US$ 2 miliar.

Artinya, hitungan FPSO dari Kemenko Maritim dan Sumber Daya lebih murah US$ 2,8 miliar dari kalkulasi investor proyek Masela yang diserahkan ke SKK Migas.

"Investor meninggikan harga di darat dan memperkecil harga yang di laut. Itu yang diterima SKK migas dan dipresentasikan ke presiden," kata Abdulrachim

Abdulrachim menambahkan, kalkulasi biaya kilang onshore yang dipaparkan Kemenko Maritim dan Sumber Daya adalah hasil kajian para ahli yang sudah berpengalaman 30 tahun di sektor migas. Para ahli ini berasal dari organisasi Fortuga Institut Teknologi Bandung (ITB), atau Forum alumni ITB angkatan 1973.

Akhir tahun lalu, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli pernah bertemu Fortuga dan meminta saran terkait proyek LNG Masela.

"Fortuga itu melihat dari data-data, misalnya FPSO dan kilang-kilang darat di dunia. Kalau kilang darat sendiri malah Indonesia banyak pengalaman," kata Abdulrachim. (hns/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads