"Beberapa hari sebelumnya (Presiden Jokowi mengumumkan pembangunan Kilang LNG Masela di darat), SKK Migas mengatur pertemuan Inpex dengn Pertamina sebagai pertemuan awal apabila Pertamina masuk ke Blok Masela," kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, dalam jumpa pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (24/3/2016).
Dalam pertemuan tersebut, Pertamina dan Inpex saling menunjuk PIC (Personal In Charge) untuk menindaklanjuti rencana masuknya Pertamina ke Blok Masela. "Pada waktu itu perkenalan, dari Pertamina kemudian ditunjuk PIC-nya siapa, juga PIC dari Inpex. Ini komunikasi awal," tutur Amien.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita membicarakan kemungkinan strategic alliance. Blok Masela butuh market domestik. Dari sisi Pertamina adalah yang kemungkinan menangani market domestik," ucapnya.
Kepala Divisi Humas SKK Migas, Elan Biantoro, menambahkan bahwa porsi kepemilikan saham Pertamina di Blok Masela akan ditentukan secara business to business (B to B) antara Inpex dan Pertamina.
Begitu juga mekanisme pembelian saham Blok Masela dari Inpex, apakah menggunakan mekanisme farm in (penawaran diajukan calon pembeli saham) atau farm out (penawaran diajukan pemilik saham) akan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua perusahaan. "Baru pembicaraan awal bahwa Pertamina akan masuk ke Blok Masela. Tawar menawar, farm in atau farm out, business to business," katanya.
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Wiratmaja Puja, di tempat yang sama mengatakan, dirinya berharap Pertamina bisa ikut masuk mengelola Blok Masela sebelum tahun 2028. Kemungkinan Pertamina akan masuk dengan mekanisme farm in, yaitu Pertamina yang mengajukan pembelian saham kepada Inpex. "Tentang Pertamina masih dibahas apakah mereka masuk pakai mekanisme farm in. Kita harapkan sih Pertamina sebelum 2028 sudah di dalam," tutupnya.
(wdl/wdl)











































