Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan, tiap tahun, 70% investasi Pertamina akan dialokasikan ke sektor hilu migas (upstream). Kenapa?
"Investasi di sektor hulu untuk meningkatkan cadangan migas masa depan. Saat ini, sektor hulu migas Pertamina sangat tertinggal," ujar Dwi, di Hotel Shangri-La, Shanghai, Senin (28/3/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, terang Dwi, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dari kilang Pertamina hanya 800 ribu barel per hari. Belum lagi produksi minyak mentah Pertamina untuk dijadikan BBM hanya 300 ribu barel per hari.
Idealnya, lanjut Dwi, kapasitas kilang ini di atas kebutuhan nasional. Demikian juga dengan produksi minyak Pertamina. Karena itu, tak ada lagi wacana, Dwi ingin pembangunan kilang untuk ketahanan energi dalam negeri segera dieksekusi. Karena wacana pembangunan kilang sudah terlalu lama bergulir, tanpa adanya eksekusi.
"Kami mengejar peningkatan upstream untuk jangka panjang. Karena kami sangat ketinggalan," ungkap Dwi.
Dalam 10 tahun ke depan, Dwi menargetkan Pertamina bisa memiliki kilang dengan kapasitas 2 juta barel per hari. Ini memang tidak surplus, karena menghitung pertumbuhan konsumsi BBM sekitar 3% per tahun. Namun setidaknya, gap produksi dengan permintaan kecil. Sehingga kebutuhan impor bisa dipangkas.
Saat ini, Pertamina memang menjadi penanggung jawab proyek sejumlah kilang, antara lain kilang Bontang atau Tuban.
Sementara dari sisi produksi minyak, Pertamina melakukan ekspansi ke luar negeri. Pertamina sudah memproduksi minyak dari Aljazair dan juga Malaysia saat ini.
"Target kami menambah kapasitas di Aljazair. Kami intensif pembicaraan dengan Iran dan Irak. Menjajaki beberapa negara di Afrika tapi yang aman. Kemudian Rusia," paparnya.
Alasan Pertamina berekspansi ke luar negeri, karena di dalam negeri sumber cadangan minyak baru sangat sulit. "Eksplorasi di dalam negeri butuh kerja keras," ujarnya.
Kemudian, Dwi juga mengatakan, Pertamina akan meningkatkan kepemilikan kapalnya dalam operasi pengiriman migas. Ini seperti yang menjadi arahan Menteri BUMN, Rini Soemarno.
Saat ini, secara volume pengangkutan migas, 45% sudah dilakukan oleh kapal milik Pertamina. Meski secara jumlah baru sekitar 30%.
Dalam 5 tahun ke depan, Dwi menginginkan 60% volume migas yang diangkut Pertamina menggunakan kapal milik sendiri.
Kendala Pertamina meningkatkan jumlah kapalnya dengan cepat adalah karena dana. Seperti diungkap di atas, 70% investasi Pertamina adalah untuk sektor hulu dan untuk infrastruktur termasuk kapal hanya 10%.
Dwi bercerita, Pertamina berendana membentuk anak usaha di sektor perkapalan ini. "Sehingga bisa bergerak lincah," ujarnya. (ang/ang)











































