Ini Solusi dari ESDM Atasi Krisis Listrik di Pulau Nias

Ini Solusi dari ESDM Atasi Krisis Listrik di Pulau Nias

Michael Agustinus - detikFinance
Senin, 04 Apr 2016 13:58 WIB
Ini Solusi dari ESDM Atasi Krisis Listrik di Pulau Nias
Foto: Ilustrasi (Grandyos Zafna-detikcom)
Jakarta - Sudah 3 hari sejak Sabtu (2/4/2016), Pulau Nias mengalami krisis listrik akibat 2 PLTD sewa 2 x 10 MW berhenti beroperasi. Kedua mesin PLTD itu terletak di Moawo 10 MW dan Idanoi 10 MW.

Pada Jumat (1/4/2016) malam, pukul 22.21 WIB, pemilik PLTD sewa memberhentikan operasi mesin tersebut karena masalah kontrak dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Saat ini, Nias mengalami krisis listrik sebanyak 74,07% atau sebesar 20 MW dari total beban puncak sebesar 24 MW.

Untuk mengakhiri krisis listrik ini, Kementerian ESDM meminta PLN kalau perlu menyalakan PLTD sewa tersebut secara paksa karena Nias sudah dalam keadaan 'darurat listrik'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Itu kan pembangkitnya oke, cuma dimatikan saja sama kontraktornya. Nyalakan saja, ini kan darurat, bisa," kata Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Alihuddin Sitompul, dalam konferensi pers di Gedung DPD, Jakarta, Senin (4/4/2016).

Menurutnya, manajemen PLN tak perlu takut mengambil keputusan seperti itu. Risiko seperti tuntutan hukum bisa dikompromikan melalui diplomasi antar pemerintah.

"PLN tinggal ngomong ke pemerintah, minta dukungan. Tinggal Presiden telepon Kedubes AS. Kedubes AS bisa telepon kontraktornya itu. Kan bisa? Ini jadi antar pemerintah, bukan bisnis lagi," ujarnya.

Masalah kontrak yang mungkin timbul di kemudian hari akibat langkah tersebut bisa dinegosiasikan. Yang penting listrik di Nias harus menyala dulu.

"Kontraknya nanti tinggal diperbaiki. Nyalakan besok PLTD-nya, tinggal ambil kabelnya saja," cetus Alihuddin.

Krisis listrik di Nias, sambungnya, memang harus diselesaikan dengan cara luar biasa, tidak bisa dengan cara biasa.

"Masalah Nias tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Ini musibah ketenagalistrikan, ini sudah krisis, darurat listrik, harus dilakukan segera. Manajemen PLN harus segera ambil keputusan, harus mengambil satu sikap," tegas dia.

Untuk solusi jangka panjang, harus dikembangkan energi terbarukan guna melistriki Pulau Nias.

"Ada potensi biomassa, panas laut, air di sana. Total potensinya memang belum dikaji. Boleh saja dikembangkan, tapi harus ada investor yang tertarik di situ. Sampai sekarang belum ada yang tertarik," kata Alihuddin.

PLN pernah berencana membangun PLTU 3x7 MW supaya Pulau Nias tidak tergantung terus-menerus pada PLTD sewaan dan bebas dari ancaman krisis listrik. Tetapi, Alihuddin mengungkapkan, rencana tersebut tak pernah terealisasi.

"Ada rencana 3x7 MW PLTU tapi tidak jalan. Mereka tidak pernah menyampaikan masalahnya secara jelas," katanya.

Harusnya, pengembangan energi terbarukan dan penambahan pembangkit listrik di PLN sudah dilakukan sejak lama.Β 

"Kalau dari sisi saya, itu sudah terlambat, mestinya sudah dari 10 tahun lalu. Sekarang sepenuhnya tergantung pada diesel (PLTD) di sana," tutupnya. (drk/drk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads