Pemilik PLTD sewa memberhentikan operasi mesin tersebut, karena masalah kontrak dengan PLN. Saat ini Nias mengalami krisis listrik sebanyak 74,07% atau sebesar 20 MW, dari total beban puncak sebesar 24 MW.
Akibatnya, aktivitas masyarakat setempat sangat terganggu. Mulai dari rumah tangga, sekolah, kantor swasta, hingga kantor pemerintahan, semuanya tidak bisa beraktivitas normal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang belum seluruhnya, tapi sudah 75% tercover. Mungkin dalam 1-2 minggu ke depan akan selesai seluruhnya," kata Sudirman, saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/4/2016).
Pihaknya menilai PLN sudah cukup sigap mengatasi krisis listrik Nias, sehingga krisis bisa lebih cepat diatasi. "Yang harus kita apresiasi adalah upaya-upaya penanggulangannya berlangsung cepat," tutupnya.
Sebelumnya, PLN memperkirakan butuh kira-kira 4-5 hari untuk menyelesaikan krisis listrik di Pulau Nias yang berlangsung sejak Jumat (1/4/2016) pukul 23.30 WIB lalu.
Untuk menutup defisit listrik sebesar kurang lebih 18 MW, PLN mendatangkan mesin diesel untuk PLTD berkapasitas 12 MW dari Langsa, Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Pengiriman mesin dan persiapannya untuk beroperasi membutuhkan waktu 4-5 hari.
"Paling cepat 4-5 hari. Kita rencana membawa mesin dari Langsa, Aceh. Akan dikirim 12 MW, diharapkan 4 hari sudah sampai sana dan operasi secara bertahap," kata Direktur Bisnis Regional Sumatra PLN, Amir Rosidin, Senin pekan lalu. (wdl/wdl)











































