Direktur Bisnis PLN Regional Sumatera, Amir Rosidin, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah berupaya agar tidak bergantung pada perusahaan-perusahaan tertentu dalam hal pasokan listrik.
"Kita sekarang lagi melihat. Dengan adanya pengalaman ini PLN lagi meninjau, jangan sampai PLN terlalu tergantung pada 1 perusahaan," kata Amir saat ditemui di Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi untuk saat ini kecil kemungkinannya krisis listrik seperti di Nias menular ke daerah-daerah itu. Hubungan PLN dengan perusahaan-perusahaan penyedia jasa sewa PLTD (vendor) di daerah-daerah itu baik.
"Di Riau dan Sumatera Barat juga (mayoritas suplai listrik dari 1 vendor). Ini (kejadian di Pulau Nias) terus terang jarang terjadi, agak aneh. Tapi kita sudah melakukan komunikasi dengan masing-masing vendor, nggak ada masalah," ungkapnya.
Agar tak ada lagi peristiwa serupa di kemudian hari, PLN mendiversifikasi vendor dan Independent Power Producer (IPP/produsen listrik swasta) yang menjual listrik ke PLN. Di Sumatera, swasta yang memasok listrik untuk PLN berasal dari berbagai negara, tidak ada 1 perusahaan atau pun 1 negara yang dominan.
"Oleh karena itu, untuk di daerah Sumatera ada pembangkit-pembangkit dari China misalnya PLTU Pangkalan Susu 2x200 MW dan PLTU Naganraya 2x100 MW. Kemarin kita bangun PLTG dari Eropa. Kemudian juga dipasang pembangkit-pembangkit dari Amerika Serikat, dari GE, totalnya sekitar 375 MW, salah satunya di Nias. Jadi hal itu juga sudah terpikirkan," tutup Amir. (hns/hns)











































