"Masalah kelistrikan memang tidak bisa diselesaikan dengan cepat. Kadang-kadang korporasi juga mesti berkorban, kepentingan negara harus dikedepankan," tandas Sudirman saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Nias, Kamis (14/4/2016).
Dalam hal melistriki daerah-daerah terpencil dan tertinggal, efisiensi dan laba tak boleh terlalu dipertimbangkan. Yang paling penting dan nomor satu adalah listrik menyala. Lagipula pemerintah telah menjamin bahwa PLN tidak akan rugi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, menambahkan bahwa keamanan pasokan listrik sebagai hal utama yang harus dijaga oleh PLN. PLN, tambah Jarman, diminta tidak lalai sehingga krisis listrik tidak muncul hanya karena mengejar efisiensi.
"Keamanan dari pasokan listrik itu harus dijaga, itu yang diutamakan. Itu sudah diamanatkan oleh Undang Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, sebagai pemegang izin usaha maka kewajiban PLN adalah memenuhi pasokan listrik. Baru setelah itu kepentingan korporat, baru dilihat bagaimana memenuhi pasokan dengan listrik yang paling murah," paparnya.
Jarman menambahkan, pihaknya paham bahwa PLN sebagai BUMN yang berstatus Perseroan Terbatas (PT) juga punya kepentingan korporasi. Tetapi kepentingan korporasi bisa berjalan beriringan dengan kepentingan negara.Β
Di samping memberikan kewajiban kepada PLN, pemerintah juga memberi keistimewaan kepada PLN. Aturan-aturan yang dirancang pemerintah telah memberikan hak monopoli dan menjamin PLN tak akan rugi. Maka PLN tak perlu ragu dalam mengambil kebijakan bila itu untuk kepentingan negara, tak perlu takut rugi dan sebagainya.
"Harga listriknya kan sudah harga keekonomian. Kalau dia beli listrik dari IPP, lalu dia jual, ada margin 7%. Peraturan-peraturan mengenai tarif sudah mengawal seperti itu, (PLN) nggak akan rugi. Yang subsidi saja dikasih margin 7%. Kalau dia (PLN) harus menjual di bawah harga keekonomian, pemerintah memberikan subsidi," pungkasnya. (feb/feb)










































