Derita Warga Nias Mati Listrik 12 Hari, Ponsel Mati Hingga Tak Bisa Mandi

Derita Warga Nias Mati Listrik 12 Hari, Ponsel Mati Hingga Tak Bisa Mandi

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 15 Apr 2016 14:10 WIB
Derita Warga Nias Mati Listrik 12 Hari, Ponsel Mati Hingga Tak Bisa Mandi
Foto: Pool
Nias - Krisis listrik selama 12 hari sejak 1 April 2016 hingga 13 April 2016 di Nias menimbulkan berbagai kesulitan bagi masyarakat. Di hari pertama krisis listrik terjadi, warga Nias panik karena listrik mati dan tidak menerima pemberitahuan sama sekali dari PLN.

Pengumuman yang disampaikan PLN melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) tak tersampaikan karena radio sudah mati.

Ponsel milik warga Nias juga sudah mati, tidak bisa diisi ulang (charge) baterainya. Kalau pun masih bisa hidup, tidak ada sinyal karena menara BTS pun mati.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jujur, waktu itu warga panik, tidakΒ  menyangka bisa selama itu (krisis listrik 12 hari). Terlebih infonya terlambat diumumkan oleh PLN di RRI. Padahal warga sudah tak bisa lagi mendengar radio karena mati lampu. Dan sebagian besar setelah 24 jam hampir semua di pelosok-pelosok, BTS tak berfungsi, juga tak bisa charge hp (isi daya handphone)," tutur tokoh masyarakat Nias, Agus Mendrofa, saat ditemui di Nias, Kamis (14/4/2016).

Toko-toko yang menjual genset pun segera diserbu hingga stok yang ada terjual habis.

"Bengkel-bengkel tempat reperasi genset dipenuhi para pemilik genset-genset perumahan. Dan sejak mati total di hari kedua semua toko yang menjual genset rumahan rata-rata 500 watt-3000 watt laku keras dan stock habis di toko," imbuhnya.

Tapi tak semua warga Nias bisa membeli genset. Sebagian besar rumah tetap gelap gulita.

"Terjadi kesenjangan sosial, kecemburuan sosial dipelosok desa ketika ada warga yang sanggup membeli genset dan ada yang tak sanggup," ucapnya.

Penduduk Nias yang bermata pencaharian sebagai nelayan sangat terdampak oleh padamnya listrik ini. Berhari-hari nelayan tak bisa melaut karena pabrik es tidak bisa berproduksi. Listrik memang sesekali menyala, tapi hanya 2-3 jam, tak cukup untuk membuat es.

"Apa yang bisa dilakukan dengan 2-3 jam tersebut karena kulkas belum sempat beku esnya?" tanya Agus.

"Ikan-ikan di pasar pada busuk juga karena tidak ada es. Dampaknya sangat merugikan ekonomi masyarakat," sambungnya.

Para pelajar SMA yang sedang Ujian Nasional pada 4-7 April lalu sangat terganggu persiapannya, tidak bisa belajar dengan baik pada malam hari akibat mati lampu.

"Selama 3 hari ada UAN SMU dan SMK, sangat prihatin kesiapan pelajar-pelajar Nias dalam mengikuti UAN," tuturnya.

Pasokan air bersih juga terkena efek krisis listrik. Para pelanggan PAM di Nias sempat tidak mendapat air bersih akibat mati listrik, mandi pun menjadi sulit.

"Lengkaplah penderitaan kami ditambah matinya saluran air PAM milik Tirta Umbu Pemkab Nias yamg melayani pelanggannya di kota Gunung Sitoli," ucap Agus.

Pihaknya ingin sekali menuntut ganti rugi pada PLN. Tetapi warga Nias umumnya tidak terlalu mengerti prosedur hukumnya.

"Soal ganti rugi kami tidak pernah ajukan. Padahal kami tahu ada UU perlindungan konsumen tentang kelistrikan. Apabila mati sekian hari harusnya ada denda kompensasi dari PLN, namun jujur tak ada yang menggugatnya karena kami di Nias tak banyak yang mengerti jalurnya dan tak banyak yang ngerti hukum," pungkasnya. (ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads