Sebagai pembanding, Sumut masih mengalami pemadaman bergilir hingga 2015 lalu karena defisit listrik sekitar 400 MW. Byar pet baru teratasi setelah PLTU Pangkalan Susu 2x200 MW dan PLTU Nagan Raya 100 MW beroperasi di pertengahan 2015.
Tetapi kondisi ini belum ideal, sebab cadangan daya listrik (reserve margin) hanya 6%, masih rawan. Idealnya reserve margin mencapai setidaknya 30% dari beban puncak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat cadangan yang minim, Sumut akan mengalami pemadaman bergilir (byar pet) jika ada gangguan sedikit saja. "Kalau misalnya satu pembangkit di Pangkalan Susu terganggu, kira-kira 200 MW, otomatis langsung defisit (listrik)," Amir menambahkan.
Pertumbuhan konsumsi listrik di Sumut pun amat tinggi, mencapai 9% per tahun. Sebagai perbandingan, rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik di provinsi-provinsi lain di Sumatera hanya 3%-5%. Bila peningkatan konsumsi ini tidak diimbangi dengan pertambahan pasokan listrik, Sumut akan segera mengalami krisis listrik lagi.
Agar keamanan pasokan listrik di Sumut terjamin, PLN akan menggenjot pembangunan jaringan transmisi di Sumatera. Dengan jaringan transmisi yang mumpuni, surplus listrik dari Sumatera Selatan (Sumsel) bisa dialirkan ke Sumut.
"Untuk itu di Sumatera perlu dibangun jaringan transmisi. Transmisi PLN itu di Sumatera harus dibangun sekitar 19.000 km selama 5 tahun," ucapnya.
Pembangunan pembangkit-pembangkit listrik baru juga dikebut supaya pertumbuhan konsumsi listrik di Sumut yang saat ini mencapai 9% per tahun bisa terpenuhi. Dengan adanya jaringan-jaringan transmisi baru, listriknya bisa didistribusikan ke seluruh Sumatra, termasuk Sumut.
"Dalam waktu dekat ini di wilayah tengah akan beroperasi PLTU Sumsel-5 150 MW punya Sinar Mas. Kemudian di Keban Agung 2x135 MW lagi tes, PLTU Banjarsari sudah masuk 2x110 MW. Tahun ini akan beroperasi pembangkit-pembangkit baru totalnya 1.200 MW di Sumatera. Tahun depan juga sekitar 1.000 MW, terus kita kejar," tutup Amir. (hns/hns)











































