Pengembangan panas bumi terus dilakukan supaya kekayaan tersebut tidak sia-sia. Masyarakat Indonesia pun bisa memperoleh energi yang bersih dan tak akan habis. Hingga 2025, Kementerian ESDM menargetkan kapasitas terpasang listrik dari panas bumi bisa mencapai 7.000 MW.
Agar target tersebut bisa tercapai, setiap tahun penggunaan panas bumi harus ditingkatkan hingga kurang lebih 600 MW.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rida mengatakan, pihaknya berupaya membuat kemudahan-kemudahan supaya target 7.000 MW pada 2025 itu bisa tercapai. "Mengingat target yang menantang, menjadi tugas kita untuk mempermudah target itu. Pemerintah akan memberikan segala macam kemudahan untuk mempercepat pengembangan geothermal," ucapnya.
Misalnya dengan penciptaan regulasi-regulasi yang mempermudah dan memberi insentif untuk pengembangan panas bumi. "PP (Peraturan Pemerintah) tentang bonus produksi tinggal ditandatangan presiden. PP Pemanfaatan Langsung tinggal diharmonisasi di Kemenkumham. RPP Pemanfaatan Tidak Langsung sedang dibahas di internal ESDM," tuturnya.
Selain itu, BUMN juga diberi penugasan untuk mengeksplorasi dan memproduksi panas bumi di wilayah-wilayah kerja tertentu. "Penugasan ke BUMN dijamin UU Panas Bumi," tukas dia.
Sementara itu, Asosiasi Panasbumi Indonesia (API) menyatakan, akan terus mendukung pengembangan panas bumi supaya target listrik 7.000 MW dari panas bumi di 2025 bisa tercapai.
Salah satunya dengan penyelenggaraan Indonesia International Geothermal and Exhibition (IIGCE) 2016 pada 10-12 Agustus mendatang di JCC Senayan, Jakarta. Acara ini direncanakan akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Ini ajang untuk berdiskusi masalah-masalah panas bumi serta berbagi pengalaman dan keahlian bagi kepentingan bersama," tutupnya. (wdl/wdl)











































