"(Jumlah) Surplus produksinya saya lupa, tapi kira-kira kalau dari matrix balance-nya mungkin sudah balance ya. Kalau kita implementasikan 20% FAME, solar kita nggak lagi impor," kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (19/4/2016).
Tetapi, surplus produksi solar tersebut bukan karena peningkatan kapasitas kilang Pertamina, bukan karena produksi bertambah, melainkan konsumsi yang anjlok. Penurunan konsumsi yang tajam dialami oleh industri yang sedang lesu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anjloknya konsumsi solar, sambungnya, terutama berasal dari sektor pertambangan. Merosotnya harga komoditas tambang membuat sepi aktivitas produksi mineral dan batu bara.
Daerah-daerah tambang seperti Kalimantan sangat terpukul, konsumsi solar di sana pun berkurang drastis. "Paling menonjol daerah Kalimantan, pertambangan kan anjlok banget," ucapnya.
Pertamina pun mulai menjajaki untuk mengekspor kelebihan produksi solar dari kilang-kilangnya ini. "Sedang dijajaki untuk diekspor, tentu harganya yang bagus," tutupnya. (hns/hns)











































