"Belum ada KKKS lain (selain Chevron) yang melapor akan mengurangi karyawan," kata Dirjen Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja, saat ditemui usai diskusi di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Rabu (20/4/2016).
Pihaknya dapat memahami langkah yang diambil oleh Chevron. Sebab, industri hulu migas saat ini sedang terpukul akibat anjloknya harga minyak hingga di bawah US$ 40/barel dari sebelumnya di level US$ 100/barel pada 2014. Penerimaan perusahaan-perusahaan minyak terjun hingga hampir 70%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum ada (selain Chevron). Efisiensi itu tidak harus mengurangi tenaga kerja. Pengurangan karyawan itu langkah terakhir kalau langkah lain sudah tidak cukup," kata Kadiv Humas SKK Migas, Elan Biantoro, kepada detikFinance.
Dia menambahkan, para KKKS menempuh cara yang berbeda-beda untuk melakukan penghematan. "Misalnya Conoco Philips, tahun ini tidak ada kenaikan gaji, tidak ada bonus. Tapi mereka tidak melakukan pengurangan karyawan," ujar Elan.
Ada juga yang mengetatkan pengeluaran dengan memangkas biaya-biaya untuk perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan operasional lainnya. "Kalau dulu biasanya pergi-pergi rapat, sekarang cukup teleconference saja untuk menggantikan pergi-pergi," tukas dia.
Selain itu, KKKS umumnya mengurangi biaya modal (capex) untuk pengembangan lapangan. Proyek-proyek yang keekonomiannya rendah ditunda (reschedule).
Elan menambahkan, kegiatan pengeboran berkurang drastis akibat penghematan yang dilakukan KKKS. Biasanya, setiap tahun ada 1.000 pengeboran. "Sekarang cuma 450, kurang dari separuhnya," ungkapnya.
Bila semua langkah-langkah efisiensi itu sudah dilakukan namun keuangan perusahaan masih merah, mau tak mau dilakukan pengurangan jumlah karyawan, seperti yang dilakukan PT Chevron Pacific Indonesia baru-baru ini. (hns/hns)











































