Mahasiswa USU Bikin Pembangkit Listrik Tenaga Suhu

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Rabu, 20 Apr 2016 17:21 WIB
Foto: Muhammad Idris
Jakarta - Jika umumnya energi listrik dari teriknya radiasi sinar matahari dihasilkan dari panel surya yang berfungsi mengumpulkan panas kemudian mengubahnya jadi listrik, tak demikian halnya dengan alat penghasil listrik yang satu ini.

Jerry Halasson Simanjuntak, mahasiswa Universitas Sumatra Utara (USU), Medan ini membuat aplikasi generator termolistrik, atau listrik dari sumber kolektor panas matahari yang menghasilkan arus suhu panas untuk membuat daya listrik.

Jerry mengungkapkan, berbeda dengan cara kerja panel surya yang mengumpulkan cahaya matahari pada titik tertentu untuk menghasilkan panas, pembangkit listrik tenaga suhu ini murni memanfaatkan udara panas yang dialirkan di antara pelat-pelat aluminium buatannya.

"Jadi sinar matahari yang dikumpulkan di dengan alat fokus membuat panas pada pelat aluminium. Suhu panas di dalam alumnium ditangkap oleh alat bernama peltier yang telah terhubung dengan kabel untuk mengalirkan listrik," katanya kepada detikFinance, dalam pameran Tanoto Foundation Dukung Peneliti Muda Indonesia, di Jakarta, Rabu (20/4/2016).

Banyaknya listrik yang dihasilkan, menurut Jerry, sangat tergantung pada jumlah peltier yang dipakai, serta intensitas  radiasi matahari. Peltier sendiri merupakan lempengan aluminium khusus berukuran kecil yang bisa menghasilkan listrik ketika ada arus panas dan dingin bertemu.



"Peltier sebenarnya sederhana. Tapi belum ada pabriknya di Indonesia, jadi untuk peltier dibeli secara online dari China. Harganya satu peltier US$ 4 per keping, belum termasuk ongkos kirim," jelasnya.

Jerry mengungkapkan, satu peltier yang telah dipasang pada alat buatannya tersebut mampu menghasilkan listrik sebesarb 13,86 watt dengan tegangan 12,5 volt.

"Kalau besar dengan banyak peltier bisa menghasilkan listrik untuk beberapa rumah. Kalau satu ini paling untuk charger handphone dan sebagainya. Jadi skalanya masih sangat kecil," ujar mahasiswa berusia 23 tahun ini.

Dia menuturkan, dikembangkan sejak Februari lalu, selain lebih sederhana dan mudah dalam perawatan, listrik tenaga suhu ini jika dibuat skala besar bisa lebih murah ketimbang harga panel surya.

"Hitungannya lebih murah, saya lupa hitungannya. Dari harga peltier dan listrik yang dihasilkan saya bisa simpulkan lebih murah. Sekarang saya dan teman saya lagi kembangkan alat buat simpan listriknya," pungkas Jerry.

(ang/ang)