Perusahaan Migas Kesulitan Keuangan, Ini Respons Menteri ESDM

Perusahaan Migas Kesulitan Keuangan, Ini Respons Menteri ESDM

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2016 14:20 WIB
Perusahaan Migas Kesulitan Keuangan, Ini Respons Menteri ESDM
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Industri hulu migas berada dalam kondisi krisis akibat jatuhnya harga minyak dunia dalam 2 tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan migas yang menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Indonesia mengalami kesulitan keuangan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengakui situasi di industri hulu migas nasional kurang baik. Untuk membantu keuangan para KKKS, pihaknya kini terus mempersiapkan insentif.

Bila para KKKS tidak dibantu, Sudirman khawatir kegiatan eksplorasi untuk pencarian cadangan minyak baru juga terganggu. Bila itu terjadi, ke depan produksi minyak nasional bakal mengalami penurunan drastis, otomatis impor minyak bertambah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tadi baru dibahas, usulan insentif mereka (KKKS) masuk akal. Itu sudah jadi bagian dari diskusi kita yang direkomendasikan Komite Eksplorasi Nasional," kata Sudirman saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (22/4/2016).

Usulan-usulan insentif dari KKKS, seperti perpanjangan masa eksplorasi, bagi hasil yang lebih fleksibel sesuai harga minyak, semuanya dipertimbangkan matang oleh pemerintah.

"Kami mengerti bahwa dalam kondisi minyak murah, eksplorasi pasti rendah, sekarang dipertimbangkan ekstensi masa eksplorasi. Soal dynamic split (bagi hasil fleksibel sesuai tingkat harga minyak) sudah kita kerjakan di Blok Mahakam," ucapnya.

Sudirman tak berani menjanjikan kapan insentif-insentif tersebut bisa dikeluarkan. Pihaknya mengupayakan bisa dirampungkan sesegera mungkin. "Jadi semua sedang dipertimbangkan. Tentu harus disiapkan Permen (Peraturan Menteri).

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat," tutupnya.

Sebagai informasi, berbagai cara ditempuh oleh perusahaan-perusahaan migas yang menjadi KKKS di Indonesia untuk tetap bertahan di tengah harga minyak yang rendah. Efisiensi mau tak mau dilakukan karena harga minyak terjun dari level US$ 100 pada 2014 hingga di bawah US$ 40/barel saat ini. Penerimaan perusahaan-perusahaan migas pun anjlok hingga 60%-70%.

Ada macam-macam langkah efisiensi yang dilakukan oleh para KKKS. "Misalnya Conoco Philips, tahun ini tidak ada kenaikan gaji, tidak ada bonus. Tapi mereka tidak melakukan pengurangan karyawan," ujar Kadiv Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Elan Biantoro, saat dihubungi detikFinance.

KKKS juga memangkas biaya-biaya untuk perjalanan dinas, rapat, dan kegiatan operasional lainnya. Selain itu, KKKS juga mengurangi biaya investasi (capex) untuk pengembangan lapangan. Proyek-proyek yang keekonomiannya rendah ditunda (reschedule).

Langkah lebih jauh diambil oleh Chevron. Chevron menawarkan opsi pengunduran diri bersifat sukarela (voluntary). Karyawan boleh mengambilnya atau tidak, tidak ada patokan jumlah pekerja yang harus pensiun dini, dan tidak ada paksaan. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads