Seperti diketahui, Pertamina menawarkan PI masing-masing sebesar 15% kepada Total dan mitranya di Blok Mahakam, Inpex Corporation. Tapi, kedua perusahaan migas itu belum memutuskan untuk menerima atau tidak tawaran tersebut.
Vice President HR Communications General Service Total E&P Indonesia, Arividya Noviyanto, mengatakan pihaknya perlu waktu untuk mempelajari Profit Sharing ContractΒ Blok Mahakam pasca 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi Total belum menerima dokumen PSC secara resmi. Ada banyak hal yang perlu dikaji dari PSC yang baru, terutama skala keekonomiannya.
"Kami belum menerima PSC secara resmi. Memang banyak hal, kan ada dokumen konfidensial yang harus diselesaikan. Selama ini kita studi dari draft PSC, kita tunggu yang asli," paparnya.
"Kami masih butuh waktu untuk melakukan studi dan mengkonfirmasi keikutsertaan. Inpex dan Total masih studi. Sampai saat ini pemerintah belum memberikan deadline. Ini bukan keputusan yang mudah juga," dia menambahkan.
Total juga mempertimbangkan cadangan minyak dan kondisi lapangan-lapangan yang ada di Blok Mahakam. Bila harga minyak masih di bawah US$ 50/barel, sebagian besar lapangan menjadi tidak ekonomis karena tingkat kesulitannya tinggi dan butuh biaya investasi besar.
"Lapangan-lapangannya masih kita review juga, kondisinya bisa membaik bisa menurun. Kalau harga minyak masih di bawah US$ 50/barel agak kurang ekonomis," ucap Arividya.
Meski belum pasti bergabung kembali di Blok Mahakam, Total berjanji akan membantu Pertamina semaksimal mungkin selama masa transisi, supaya pengelolaan Blok Mahakam tetap berjalan baik pasca 2017.
"Kita punya tim untuk mentransfer data dan knowledge ke Pertamina. Tim ini berkoordinasi dengan SKK Migas dan Pertamina. Kita ingin masa transisi berjalan mulus," tutupnya. (hns/hns)











































