30 Tahun Pasca Tragedi Chernobyl, Bagaimana Nasib Energi Nuklir?

30 Tahun Pasca Tragedi Chernobyl, Bagaimana Nasib Energi Nuklir?

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Selasa, 26 Apr 2016 12:03 WIB
30 Tahun Pasca Tragedi Chernobyl, Bagaimana Nasib Energi Nuklir?
Foto: reuters.com
Jakarta - 30 tahun lalu atau tepatnya 26 April 1986 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Chernobyl, Ukraina, meledak sehingga memicu partikel radioaktif menyebar ke atmosfer di kawasan Uni Soviet (kini Rusia) dan sebagian Eropa. Tragedi tersebut mendorong negara-negara yang memiliki PLTN berbenah untuk meningkatkan keamanan reaktor nuklir mereka.

Tragedi Chernobyl merupakan salah satu kecelakaan reaktor nuklir terbesar yang pernah ada sehingga saat ini kawasan tersebut kini terisolasi. Ada dampak positif maupun negatif yang bisa diambil dari peristiwa Chernobyl.

"Semua industri nuklir PLTN mendapatkan hal positif karena kejadian Chernobyl dikembangkan keselamatan akan lebih baik lagi," ujar Kepala Pusdiklat Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Sudi Ariyanto saat diskusi 30 tahun tragedi Chernobyl di Kantor Pusat Batan, Jakarta Selatan, Selasa (26/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan dampak negatifnya, masih banyak negara yang belum berani menggunakan nuklir sebagai sumber energi. Sudi mengatakan, kawasan terdampak radiasi nuklir di Chernobyl saat ini tengah dikaji untuk dijadikan tempat wisata edukasi.

Dari tempat tersebut para masyarakat yang datang bisa mempelajari tentang pemanfaatan energi nuklir dan sistem keamanannya.

"Di Chernobyl ada usaha untuk menjadi tempat itu menjadi layak yang dikunjungi, tempat wisata juga," tutur Sudi.

Terlepas dari pro kontra soal nuklir, energi nuklir memiliki spektrum yang luas dalam segi pemanfaatannya. Batan sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk pengembangan nuklir berupaya untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi yang aman untuk khalayak ramai.

"Batan memiliki sebuah moto nuklir untuk kesejahteraan. Di Indonesia belum ada PLTN tapi sudah ada reaktor," jelas Sudi.

Sejak 50 tahun lalu, Indonesia baru memiliki reaktor pertamanya di Bandung yang bernama Reaktor Triga 2000 yang baru dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan dan pelatihan saja. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads