Tak Mudah Bangun PLTN di RI, BATAN: Masalahnya di Keputusan Pemerintah

Tak Mudah Bangun PLTN di RI, BATAN: Masalahnya di Keputusan Pemerintah

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Selasa, 26 Apr 2016 16:18 WIB
Tak Mudah Bangun PLTN di RI, BATAN: Masalahnya di Keputusan Pemerintah
Foto: reuters.com
Jakarta - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) masih terus mengkaji kemungkinan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Lokasi pembangunan PLTN yang aman sudah ditemukan di Pulau Bangka.

Batan menyebutkan bahwa potensi pemanfaatan energi nuklir sudah mumpuni untuk PLTN, namun tinggal menunggu arahan dari pemerintah untuk pengembangannya lebih lanjut.

"Kalau dari segi energi, potensi sudah ada. Masalahnya kan keputusan pemerintah. Jadi walaupun Batan bagian dari pemerintah, tetapi tidak dalam posisi yang memutuskan karena kita sudah dibatasi oleh undang-undang," terang Kepala Pusdiklat Batan Sudi Ariyanto kepada detikFinance di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (26/4/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penggunaan nuklir sebagai energi dinilai mampu mengalihkan ketergantungan terhadap energi fosil. Penggunaan nuklir juga diangaap mampu menghemat pengeluaran negara dalam pembelian bahan bakar.

"Sebetulnya energi kita kan semakin lama semakin habis. Jadi, kalau nuklir satu kali isi bahan bakar bisa setahun atau setahun setengah baru isi lagi. Kalau batubara hanya bisa 21 hari," jelas Sudi.

Batan juga menjamin keamanan pengelolaan energi nuklir jika nantinya Indonesia membangun dan mengoperasikan PLTN.

"Segi keamanannya pasti akan kita jamin, cuma permasalahannya adalah kadang-kadang kita tidak yakin dengan diri kita sendiri," tutur Sudi.

Saat ini sudah banyak para ahli nuklir yang siap berkontribusi dalam memberikan terobosannya untuk mengembangkan PLTN di dalam negeri.

"Banyak orang-orang kita yang memiliki kemampuan, siap latih. Mungkin kalau misalnya oke kita punya sedikit saja orang kemudian kita latih kita didik itu pasti akan mampu," kata Sudi.

Dengan adanya pembangunan PLTN di Indonesia, diharapkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dapat dikurangi.

"Urgensinya ini sebenarnya bisa dilihat dari segi diversifikasi energi. Kalau kita hanya bergantung kepada satu jenis energi saja itu kan berbahaya," tutup Sudi. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads