Igor dan rombongannya dibawa oleh Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, untuk diperkenalkan pada Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri ESDM Sudirman Said.
VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Arindita Pusponegoro, menuturkan bahwa Rini merestui bila Rosneft terpilih menjadi partner Pertamina untuk membangun kilang. Tetapi, Rini berpesan agar ada kerja sama lain di luar pembangunan kilang supaya keuntungan yang diperoleh semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kesempatan yang sama, Rini juga berpesan kepada Pertamina supaya segera memutuskan partner yang terpillih paling lambat bulan depan. Sebab, pembangunan kilang harus segera berjalan.
"Ibu Menteri maunya bulan Mei ini sudah ada keputusan, jadi kita membutuhkan percepatan," katanya.
Adapun Sudirman Said menyampaikan keinginan agar Rosneft dapat membantu Indonesia meningkatkan cadangan BBM nasional yang saat ini hanya 18-22 hari. "Kalau dari Pak Menteri dari sisi SPR (Strategic Petroleum Reserve)," ucap Wianda.
Dari sisi Rosneft, sampai saat ini belum ada permintaan khusus. "Sejauh ini masih wajar-wajar saja. Kalau dari sisi permintaan-permintaan mereka normatif saja," katanya.
Permintaan-permintaan yang dikemukakan Rosneft di antaranya adalah masalah pembagian modal, kemungkinan mereka bisa memasok minyak mentah ke Indonesia, dan pasar untuk produk BBM mereka di Indonesia.
"Pembagian equity, mereka juga minta bisa memasukan crude mereka, terus dari sisi produk masih kita lihat apakah dikonsumsi di sini saja atau mereka bisa bawa," tutur Wianda.
Untuk pasar bagi BBM yang dihasilkan dari kilang Tuban, kemungkinan seluruhnya akan diserap di pasar domestik. "Kalau dari pernyataan mereka bahwa permintaan di sini besar, kita bisa menyediakan semua untuk lokal di sini," tukasnya.
Pertamina mengaku tak ada keberatan sama sekali dengan permintaan-permintaan Rosneft. Hanya saja, Pertamina ingin mayoritas kepemilikan kilang Tuban berada di tangannya.
"Kita maunya mayoritas, di atas 50% dari biaya investasi US$ 5 miliar. Biasanya (sumber pendanaan) equity 40%, loan 60%," tutup Wianda. (hns/hns)











































