Menurut perhitungan Pertamina, biaya transportasi BBM ke Kabupaten Jayawijaya Rp 8.500/liter, Kabupaten Lanny Jaya Rp 11.500/liter, Kabupaten Pegunungan Bintang Rp 29.000/liter, Kabupaten Puncak Jaya Rp 29.000/liter, Kabupaten Yahukimo Rp 4.704/liter, Kabupaten Asmat Rp 4.040/liter, Kabupaten Boven Digul Rp 3.760/liter, dan Kabupaten Mappi Rp 4.980/liter.
Untuk menekan mahalnya biaya angkut itu, Pertamina mengusulkan beberapa solusi. Pertama, pemerintah harus terus menggenjot pembangunan infrastruktur di Papua, terutama jalan raya agar daerah-daerah yang selama ini susah dijangkau bisa dilalui dengan jalur darat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, Pertamina akan membangun tangki-tangki BBM di Indonesia Timur, termasuk Papua, untuk mempermudah distribusi.
"Kami sedang proses menambah tangki BBM di 15 lokasi di Indonesia Timur," ucap Wianda.
Ketiga, terminal-terminal dan tangki BBM milik Pertamina di seluruh Indonesia akan terus ditingkatkan dari saat ini 20 hari menjadi 30 hari pada 2020. Bila stok BBM di Papua meningkat, otomatis frekuensi pengiriman juga berkurang.
Keempat, Pertamina mengusulkan agar pemerintah provinsi (pemprov) dan pemerintah kabupaten (pemkab) di Papua dan Papua Barat membuat regulasi yang menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) bagi saluran distribusi di luar Pertamina.
"Itu supaya harga BBM lebih terjangkau masyarakat," tutup Wianda.
Bila solusi-solusi ini dijalankan, Wianda yakin pasokan BBM ke Papua bisa lancar, mencukupi kebutuhan masyarakat setempat, tidak ada kelangkaan, dan seluruh warga Papua pun bisa menikmati harga BBM yang murah seperti di Jawa. (feb/feb)











































