Katsuhiko Iwamoto, Manager CBC Co. Ltd, CBC Group mengatakan, pembangkit tenaga surya sudah banyak ditemukan di negara asalnya, Jepang. Sedangkan, sumber daya alam berupa energi surya di Indonesia, sangat melimpah, namun belum banyak dimanfaatkan.
"Memang di Indonesia ada musim hujan, tapi dibandingkan dengan di Jepang, Indonesia asupan pengolahan energi surya melimpah dan jauh lebih banyak daripada Jepang, karena mataharinya lebih panjang," katanya di sela-sela acara MoU Utomodeck dengan CBC Group di Surabaya, Senin (2/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Direktur Operasional dan Marketing Utomodeck, Anthony Utomo menerangkan, dalam perjanjian kerja sama itu, pihaknya menyiapkan atap bertenaga surya. Sedangkan CBC Group menyiapkan pembangkit tenaga suryanya.
"Sasaran kita adalah bangunan pabrik-pabrik," kata Anthony.
Bagi pabrik yang ingin menggunakan solar emergency rooftop system atau atap bertenaga surya tidak perlu mengeluarkan biaya hingga miliaran untuk membeli komponen hingga pemasangan. Hanya saja, pabrik harus membeli listrik tenaga surya itu dalam jangka waktu tertentu.
"Kita pasang atapnya, sedangkan alatnya (pembangkit tenaga surya) dari CBC. Tapi harus kontrak membeli listrik kita sampai 25 tahun," tuturnya sambil menambahkan, untuk pembiayaan pemasangan alat sistem tenaga surya ini akan menggandeng perbankan.
Sebagai informasi, biasanya biaya pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan dana besar. Estimasi dana yang dikeluarkan sekitar Rp 20 miliar untuk menghasilkan 1 megawatt dengan luas 7.000 meter persegi.
Ia menambahkan, kerja sama dengan CBC Group merupakan salah satu dukungan terhadap program pemerintah terkait energi terbarukan. Menurutnya, dengan menggunakan tenaga surya, pabrik dapat menghemat biaya operasional listrik sekitar 3 sampai 5 persen.
"Kalau dengan energi surya ini lebih green dan tidak polusi. Selain itu, juga menghemat biaya lebih murah sekitar 3-5 persen dibandingkan dengan PLN. Tapi kita ikuti harga dari PLN. Kalau ada kenaikan, ya kita naikan. Kalau ada penurunan tarif dari PLN, kita ikut turunkan dengan selisih antara 3 sampai 5 persen," tandas Anthony. (roi/hns)











































