Total beban puncak di Kalbar mencapai 307 MW, sementara daya mampu listrik dari pembangkit-pembangkit milik PLN dan PLTD sewa hanya 282 MW.
Tapi alasannya bukan hanya itu saja. Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jarman, mengungkapkan bahwa impor listrik dari Malaysia merupakan bagian dari perjanjian ASEAN Power Grid yang menyepakati interkoneksi jaringan listrik antar negara ASEAN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Serawak misalnya, ada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang punya surplus besar, jaraknya tak terlalu jauh dari Kalbar, maka dibuat jaringan interkoneksi antara Indonesia dan Malaysia.
"Kerja sama ini dalam rangka memenuhi kebutuhan energi, kita bisa mendapatkan energi yang murah," kata Jarman usai rapat dengan Menteri Tenaga Hijau dan Teknologi Malaysia di Bengkayang, Kalbar, Selasa (10/5/2016).
Jarman menjelaskan, harga listrik yang diimpor dari Malaysia hanya Rp 900/kWh. Sebagai pembanding, harga listrik dari PLTD-PLTD yang disewa PLN untuk melistriki Kalbar mencapai Rp 3.000/kWh. Subsidi listrik bisa dikurangi dengan adanya penghematan ini, PLN pun memperoleh margin yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kelistrikan.
"Sekarang kita lihat, pakai PLTD Rp 2.500-3.000/kWh, kalau kita beli dari Malaysia hanya Rp 900/kWh. Harga jual ke masyarakat Rp 1.350/kWh. Jadi yang tadinya menyubsidi karena pakai diesel, sekarang ada margin keuntungan untuk PLN maintain pembangunan transmisi dan sebagainya," dia menuturkan.
Lagipula, Malaysia pun nantinya akan gantian membeli listrik dari Indonesia. PLTU berkapasitas 2x600 MW akan dibangun di Riau, separuh dayanya atau 600 MW akan diekspor ke Semenanjung Malaysia.
"Kebetulan untuk Kalbar kita beli dari Serawak, tapi nanti di Sumatera kita jual listrik ke Semenanjung," ujarnya.
Manajer PLN Unit Operasional APDP Kalbar, Ricky Cahya Ardian, menambahkan bahwa PLN memperoleh penghematan sebesar Rp 1,5 miliar per hari berkat impor listrik dari Malaysia.
Konsumsi listrik di 6 kota dan kabupaten yang mendapat pasokan listrik dari Serawak mencapai 1 juta kWh per hari. Harga listrik dari Serawak lebih murah Rp 1.500/kWh dibanding PLTD, maka efisiensi per hari Rp 1,5 miliar, PLTD-PLTD sewa pun bisa dikurangi.
"Listriknya murah, daripada kita bakar BBM terus. Kita bisa hemat Rp 1,5 miliar/hari, menurunkan pemakaian BBM PLN," tutupnya. (ang/ang)











































