Impor tersebut terus meningkat, per 9 Mei 2016 kemarin sudah 75 MW dan pada 16 Mei 2016 nanti bertambah lagi menjadi 95 MW.
Berkat pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bakun di Serawak, kini 6 kota dan kabupaten di Kalbar bebas dari pemadaman bergilir (byar pet). Sebelumnya, pemadaman terjadi 2 kali sehari selama 2 jam tiap pemadaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tambahan suplai listrik dari Malaysia membuat daya mampu PLN di Kalbar kini meningkat hingga 325 MW, di atas beban puncak sebesar 307 MW.
"Daya mampu PLN sekarang meningkat menjadi 325 MW dengan beban puncak 307 MW," tukasnya.
Impor listrik dari Malaysia ini akan terus berlangsung setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Setelah itu, impor masih mungkin dilanjutkan atau bisa jadi gantian Indonesia yang mengekspor listrik, tergantung kondisi dan negosiasi 5 tahun lagi.
"Perjanjian berlangsung sampai 2020. Lima tahun pertama kita impor, berikutnya tergantung negosiasi," ucap Ricky.
Selain membuat 6 kabupaten dan kota terbebas dari pemadaman bergilir, listrik yang diimpor dari Malaysia juga tergolong murah, hanya Rp 900/kWh. Sebagai pembanding, harga listrik dari PLTD-PLTD yang disewa PLN untuk melistriki Kalbar mencapai Rp 3.000/kWh.
Subsidi listrik bisa dikurangi dengan adanya penghematan ini, PLN pun memperoleh margin yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kelistrikan. Menurut perhitungan kasar Ricky, PLN memperoleh penghematan sebesar Rp 1,5 miliar per hari dari listrik impor ini.
Konsumsi listrik di 6 kota dan kabupaten yang mendapat pasokan listrik dari Serawak mencapai 1 juta kWh per hari. Harga listrik dari Serawak lebih murah Rp 1.500/kWh dibanding PLTD, maka efisiensi per hari Rp 1,5 miliar, PLTD-PLTD sewa pun bisa dikurangi.
"Listriknya murah, daripada kita bakar BBM terus. Kita bisa hemat Rp 1,5 miliar/hari, menurunkan pemakaian BBM PLN," tutupnya. (ang/ang)











































