Kemudian pembangunan jaringan transmisi baru 2.368 km dari total 46.000 km yang dibutuhkan untuk proyek 35.000 MW. Lalu dari 1.375 Gardu Induk (GI) berkapasitas 108.789 MVA, baru terbangun 7.295 MVA yang sudah dibangun.
Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, mengakui bahwa realisasi proyek 35.000 MW masih sedikit. Tapi proyek 35.000 MW memang tidak bisa langsung terlihat hasilnya dalam 1 tahun. Pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang mendominasi proyek ini misalnya, butuh waktu 3-4 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demikian juga dengan pembangunan transmisi dan GI, tak bisa instan. Pembebasan lahannya saja sulit sekali, bisa makan waktu bertahun-tahun, kemudian baru mulai konstruksi.
"Sama seperti pembangkit, begitu juga transmisi. Dari pembebasan lahannya, konstruksi, dan seterusnya," ucap Sofyan.
Meski sebagian besar pembangkit untuk proyek 35.000 MW masih tahap perencanaan, pengadaan, dan konstruksi bukan berarti tak ada tambahan pasokan listrik.
Ada tambahan pasokan listrik sebanyak 3.800 MW dari pembangkit-pembangkit sisa Fast Tracking Project (proyek 10.000 MW) yang baru beroperasi sekarang. Sementara sebagian besar pembangkit dari proyek 35.000 MW baru akan beroperasi mulai 2017-2019.
"Pembangkit bukannya tidak ada yang masuk, ada 3.800 MW yang masuk dalam jaringan kami, ini dari carry over FTP," tutupnya. (hns/hns)











































