Garap Proyek 35.000 MW, PLN Utang ke Bank Dunia Hingga IDB

Garap Proyek 35.000 MW, PLN Utang ke Bank Dunia Hingga IDB

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 12 Mei 2016 17:17 WIB
Garap Proyek 35.000 MW, PLN Utang ke Bank Dunia Hingga IDB
Foto: Agus Trimukti/Humas PLN
Jakarta - Proyek 35.000 MW membutuhkan biaya yang besar sekali. Untuk pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan gardu induk (GI) total dibutuhkan dana hingga US$ 73 miliar atau setara dengan Rp 949 triliun (dengan asumsi kurs Rp 13.000 per dolar AS).

Memang tak semuanya dibangun PLN. Porsi PLN untuk pembangkit listrik hanya 5.000 MW, 30.000 MW sisanya akan dibangun oleh produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP). Sebagian besar listrik akan dibeli PLN dari IPP, lalu listrik dialirkan kepada masyarakat melalui jaringan milik PLN.

Dalam proyek ini, PLN akan lebih fokus untuk pembangunan jaringan transmisi dan GI (Gardu Induk). Total dibutuhkan transmisi sepanjang 46.000 km dan 1.375 GI berkapasitas 108.789 MVA untuk proyek 35.000 MW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk pembangunan transmisi sepanjang itu dibutuhkan biaya investasi sebesar US$ 10 miliar alias Rp 130 triliun, kemudian untuk GI perlu US$ 8,3 miliar atau Rp 107,9 triliun.

Dari mana PLN mendapatkan dana ratusan triliun untuk membangun pembangkit listrik 5.000 MW, transmisi 46.000 km, dan 1.375 GI tersebut?

Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, mengungkapkan bahwa sebagian besar dana diperoleh dari utang, obligasi, laba PLN, dan pengurangan dividen yang harus disetor ke negara.

"Sumber dananya dari pinjaman, obligasi, laba, dan dividen kami yang tidak dipotong," kata Sofyan dalam diskusi di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

Dia menuturkan, berbagai bank dan lembaga keuangan siap memberikan pinjaman pada PLN. "Pinjaman-pinjaman yang sudaj siap banyak sekali. Negara-negara lain seperti China sedang lesu (ekonominya), makanya bank berbondong-bondong datang ke Indonesia," ujarnya.

Apalagi kini PLN punya ruang yang lebih besar untuk berutang berkat revaluasi aset. Nilai aset PLN naik dari Rp 600 triliun menjadi Rp 1.180 triliun setelah revaluasi aset. "Revaluasi aset kita lakukan, equity kami naik berkat revaluasi. Kami jadi bisa mendapat kredit lebih besar," ucap Sofyan.

Berikut daftar bank-bank yang siap memberi pinjaman berdasarkan data PLN yang dikutip detikFinance:

1. World Bank, dana yang disiapkan US$ 3,75 miliar dalam 4 tahun
2. ADB, US$ 4,05 miliar dalam 5 tahun
3. JICA, US$ 5 miliar dalam 5 tahun
4. KFW, Euro 655 juta untuk transmisi dan Euro 700 juta untuk pembangkit listrik renewable (energi terbarukan)
5. AFD, Euro 300 juta
6. CEXIM, US$ 5 miliar
7. CDB, US$ 10 miliar
8. IDB, US$ 300 juta

Total potensi: US$ 28,1 miliar dan Euro 1,65 miliar

Selain itu, PLN juga memperoleh pinjaman dari bank-bank dalam negeri seperti BRI, Bank Mandiri, BNI, dan BCA. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads