Proyek 35.000 MW Didominasi Pembangkit Tenaga Uap, PLN: Biaya Listriknya Murah

Proyek 35.000 MW Didominasi Pembangkit Tenaga Uap, PLN: Biaya Listriknya Murah

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 12 Mei 2016 17:47 WIB
Proyek 35.000 MW Didominasi Pembangkit Tenaga Uap, PLN: Biaya Listriknya Murah
Foto: Michael Agustinus
Jakarta - Proyek 35.000 MW didominasi oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang memakai batu bara sebagai bahan bakarnya. Dari total 35.000 MW, 18.000 MW di antaranya adalah pembangkit batu bara, sisanya menggunakan gas dan energi baru terbarukan (EBT).

Direktur Utama PLN, Sofyan Basir, menjelaskan bahwa PLTU mendapat porsi terbesar karena biaya produksi listriknya murah. PLN berupaya menekan tarif listrik untuk mendukung pengembangan industri di dalam negeri.

"Kami lagi berupaya bagaimana menurunkan tarif supaya industri berkembang, bagaimana ada kepastian tarif untuk investor. Mereka bisa aman dalam 5 tahun investasi, listriknya aman, kualitasnya baik, volumenya cukup, harganya tetap," papar Sofyan dalam diskusi di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biaya listrik harus dibuat seefisien mungkin supaya investor lebih memilih Indonesia sebagai tujuan investasi. Bila listrik mahal, daya saing Indonesia menjadi lemah. Sementara negara tetangga seperti Vietnam, punya listrik yang murah.

"Memang yang paling murah untuk industri saat ini hanya satu yaitu di Vietnam karena listriknya dari pembangkit listrik tenaga air," tuturnya.

Dengan tarif listrik yang murah dan pasokan listrik yang cukup, diharapkan investor tertarik membangun pabrik di Indonesia. Sumber energi primer yang menjadi keunggulan Indonesia untuk memproduksi listrik murah adalah batu bara, maka harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

"Nah hari ini kita punya sumber energi primer yang luar biasa yaitu batu bara," ucap Sofyan.

Bila industri di dalam negeri tumbuh pesat, tentu tercipta banyak lapangan kerja, pengangguran berkurang, kesejahteraan penduduk pun meningkat. "Bagaimanapun ini berdampak pada pekerjaan, persaingan, pengangguran," tukas dia.

Batu bara memang menimbulkan polusi. Di masa mendatang Indonesia tentu bakal mengembangkan pembangkit-pembangkit dari energi baru terbarukan yang bersih. Tapi untuk saat ini, batu bara harus dimaksimalkan demi meningkatkan kesejahteraan penduduk.

"Mari kita manfaatkan batu bara dengan semaksimal mungkin. Memang nanti kita beralih ke sumber energi lain, mungkin nuklir, tapi itu nanti. Hari ini kita manfaatkan potensi yang bisa kita bangun, barangnya ada. Jadi itu menurut saya sangat mungkin dan relevan untuk proyek 35.000 MW," pungkasnya. (hns/hns)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads