RI Impor Listrik dari Malaysia, ESDM: Tak Bahayakan Kedaulatan Energi

RI Impor Listrik dari Malaysia, ESDM: Tak Bahayakan Kedaulatan Energi

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 12 Mei 2016 19:07 WIB
RI Impor Listrik dari Malaysia, ESDM: Tak Bahayakan Kedaulatan Energi
Foto: Agus Trimukti/Humas PLN
Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berpendapat bahwa impor listrik dari Malaysia untuk memenuhi kebutuhan listrik 6 kabupaten dan kota di Kalimantan Barat (Kalbar) tidak membahayakan kedaulatan energi nasional.

Alasannya, listrik impor tidak lebih dari 30% konsumsi listrik di Kalbar. Cadangan listrik di seluruh sistem kelistrikan di Indonesia, termasuk di Kalbar, akan ditingkatkan hingga 30% dari kebutuhan.

Dengan begitu, seandainya pembangkit di Malaysia berhenti memasok listrik, entah karena gangguan atau penyebab lainnya, Kalbar tidak akan gelap gulita. Pasokan listrik dari Malaysia bisa ditutup oleh cadangan daya yang ada.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nggak membahayakan, karena reserve margin kita kan standarnya 30%, impor listrik itu paling banyak 30%. Jadi kalau ada sesuatu, kita listriknya tetap terpenuhi," kata Jarman saat ditemui usai diskusi di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/5/2016).

Kebutuhan listrik di Kalbar saat ini 307 MW, pasokan dari impor sekarang 75 MW dan bakal meningkat menjadi 95 MW dalam waktu dekat. Pasokan sebesar 95 MW tak lebih dari 30% kebutuhan, cadangan daya di Kalbar juga akan ditingkatkan hingga kurang lebih 100 MW.

"95 MW itu kan dari kebutuhan sekitar 300 MW, nggak lebih dari 30%. Kita maintain 30% sesuai reserve margin system. Dengan cara seperti itu sistem menjadi aman," paparnya.

Jarman sangat yakin bahwa Kalbar tak akan mengalami ketergantungan pada pasokan listrik dari Malaysia. Krisis listrik akibat ketergantungan yang terlalu besar pada 1 pemasok, seperti di Pulau Nias baru-baru ini, tak akan terulang di Kalbar.

"Nggak lah, nggak akan terjadi seperti di Nias kemarin," tutupnya.

Sebagai informasi, Indonesia sudah mulai mengimpor listrik dari Malaysia sebesar 50 MW sejak 20 Januari 2016. Kemudian pada 9 Mei 2016 pasokan listrik dari Malaysia meningkat sampai 75 MW, dan rencananya impor akan ditingkatkan lagi sampai 95 MW mulai 16 Mei 2016.

Berkat pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bakun di Serawak, kini 6 kota dan kabupaten di Kalimantan Barat, yaitu Pontianak, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas, Kubu RayaΒ  bebas dari pemadaman bergilit (byar pet). Sebelumnya, pemadaman terjadi 2 kali sehari selama 2 jam tiap pemadaman.

Tambahan suplai listrik dari Malaysia membuat daya mampu PLN di Kalbar kini meningkat hingga 325 MW, di atas beban puncak sebesar 307 MW. Impor listrik dari Malaysia ini akan terus berlangsung setidaknya hingga 5 tahun ke depan. Setelah itu, impor masih mungkin dilanjutkan atau bisa jadi gantian Indonesia yang mengekspor listrik, tergantung kondisi dan negosiasi 5 tahun lagi. (hns/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads