Contohnya yang terjadi di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.Β Untuk kebutuhan memasak sehari-hari, gas LPG harus dibeli dari Pasar Lundu yang terletak di Sarawak, Malaysia.
Masalah seperti ini tak hanya terjadi di Sambas saja, melainkan juga di permukiman lain yang berada di wilayah perbatasan. PT Pertamina (Persero) mengakui pasokan LPG dari ke wilayah perbatasan dan daerah terpencil memang masih terbatas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan segera bangun tangki LPG tambahan di 4 lokasi di Indonesia Timur dengan dana APBN," kata VP Corporate Communication Pertamina, Wianda A Pusponegoro, melalui pesan singkat kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (13/5/2016).
4 tangki LPG baru yang akan dibangun berada di Jayapura (Papua) dengan kapasitas 2x1.000 metrik ton, Wayame (Maluku) 2x1.000 metrik ton, Tenau (Nusa Tenggara Timur) 2x500 metrik ton.
"Satu lagi masih dalam rencana di Bima, Nusa Tenggara Barat, 2x500 metrik ton," paparnya.
Dia menjelaskan, distribusi LPG ke daerah-daerah terpencil dan perbatasan memerlukan berbagai moda transportasi, mulai dari kapal, truk, hingga pesawat.
"Juga tergantung pada kondisi cuaca. Kalau cuaca buruk, pesawat tidak bisa terbang, pasokan terhenti," tutur Wianda.
Maka perlu peningkatan kapasitas tangki LPG di sekitar daerah-daerah seperti itu agar ketersediaan LPG lebih terjamin.
"Bila kapasitas storage bisa ditambah, itu akan meningkatkan stok LPG, distribusinya jadi lebih efisien," tutupnya. (hns/hns)











































