Pada kelompok non migas, komponen pendorong impor terbesar adalah pangan. Terutama untuk gandum yang turun 43,82% atau US$ 169,4 juta menjadi US$ 217,2 juta, dan gula turun 57,6% atau US$ 126,6 juta menjadi US$ 68,9 juta.
"Gandum dan gula memang karena faktor musim, jadi biasanya juga pengusaha juga sudah punya stok sejak jauh hari," ungkap Deputi Bidang Distribusi Statistik dan Jasa BPS, Sasmito Hadiwibowo, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (16/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mei kemungkinan akan kembali terjadi peningkatan," ujarnya.
Komponen impor yang turun lainnya adalah biji-bijian berminyak 32,98% atau US$ 46,8 juta, kendaraan dan bagiannya turun 7,71% atau US$ 34,1 juta, serta impor pupuk turun 21,51% atau US$ 30,5 juta. (mkl/wdl)











































