Patriot Energi akan tinggal bersama masyarakat, merasakan langsung kehidupan sehari-hari masyarakat lokal, dan mencari tahu permasalahan mereka.
Tujuan dari program ini adalah, supaya proyek-proyek EBT yang dibuat pemerintah tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat lokal juga diberdayakan oleh para Patriot Energi, supaya bisa mengelola listrik secara mandiri. Dengan begitu, proyek EBT tak lagi sekedar proyek lalu mangkrak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya, waktu itu daftar untuk pemberdayaan masyarakat sih belum ada terkait ESDM, lebih ke nasionalis juga terus apply lewat email dapat sebaran dari Whatsapp. Tesnya interview saja, mereka lihat yang kira-kira bisa bertahan untuk menjalankan program ini. Saat masuk ternyata ESDM juga serius di program ini," ujar Luthfie, di Hotel Neo Plus Green Savana, Bogor, Jawa Barat, Jumat (20/5/2016) malam.
Berbagai pengalaman dirasakannya selama menjadi patriot energi. Menurutnya, semenjak ada listrik yang berasal dari tenaga surya, banyak kegiatan yang bisa dilakukan masyarakat desa tersebut pada malam hari.
"Setelah ada PLTS itu jadi ada les malam yang tadinya nggak ada les jadi ada. Di sana mengajar juga, bantu masyarakat juga dalam penghematan penggunaan listrik, ambil batu dari laut biasanya cuma sampai sore sekarang malam juga bisa dikerjain di rumah," kata pria Sarjana Teknik Elektro ini.
Selain itu, dengan adanya listrik, usaha tenun warga bisa dikerjakan menjadi 4 hari. Sebelumnya butuh waktu 2 minggu untuk menuntaskan kain tenun tersebut.
"Tenun dikerjakan malam kan biasanya pagi, tadinya dikerjakan 2 minggu sejak ada listrik bisa selesai 4 hari kain tenunnya," tutur Luthfie.
Di sana masyarakat mendapat jatah 250 Wh per kepala keluarga untuk 170 rumah dan juga fasilitas umum. Masyarakat membayar iuran Rp 10.000 rupiah per bulan. Ia juga menambahkan ada kecemburuan dari desa lain yang belum mendapatkan jatah listrik.
"Ada kecemburuan dari desa lainnya. Jadi ada kabel pembangkit putus, begitu dicek ada yang putus ada yang gunting, kelihatan banget guntingannya," katanya
Selain Luthfie, ada lagi Putty, seorang patriot energi yang ditempatkan di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ia menceritakan, ada shock culture dari anak-anak setelah masuknya listrik.
"Ada dampak shock culture juga di sana setelah ada listrik di Mentawai, anak-anak itu senang jadi malam-malam begadang lari-larian, besoknya mereka telat bangun dan telat ke sekolah jadi disetrap di sekolah, terus juga malam-malam ada kegiatan baru biasanya tidur jadi nonton TV," ujar Putty.
Program Patriot Energi tak sembarang mengirim orang untuk menjadi sukarelawan. Ada 4 kompetensi yang menjadi persyaratan untuk menjadi Patriot Energi. Pertama, calon sukarelawan harus punya kemampuan teknis mencari sumber-sumber EBT di desa terpencil.
Kedua, insinyur-insinyur muda yang mau menjadi Patriot Energi harus punya daya juang yang tinggi, harus betah hidup di daerah terpencil yang suasananya tentu jauh berbeda dengan di kota.
Kemudian, calon Patriot Energi harus memiliki semangat yang tinggi dan dapat menularkannya kepada masyarakat sekitar. Dan yang terpenting, calon Patriot Energi harus punya ketulusan untuk mau membantu masyarakat lokal di kawasan terpencil. (wdl/wdl)











































