Cadangan gas Blok Natuna mencapai 46 TCF, potensi terbesar yang ada di Indonesia sampai saat ini. Sebagai pembanding, cadangan Blok Masela 10,7 TCF.
Namun, Blok Natuna belum dapat digarap sampai saat ini belum bisa dikembangkan karena memiliki kandungan karbondioksida (CO2) yang sangat tinggi sampai 70%, belum ada cara yang pas untuk memisahkan, menampung, dan mencegah CO2 tersebut mencemari lingkungan sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memang sudah ada teknologi untuk memisahkan CO2 dari gas alam. Tapi untuk memisahkan CO2 sebesar di Blok Natuna, butuh biaya yang mahal sekali, produksi gas menjadi tidak ekonomis.
Kemudian satu-satunya cara untuk mencegah pencemaran lingkungan adalah dengan memasukkan kembali CO2 ke dalam bumi. Tetapi tentu butuh sumur yang besar sekali untuk menampung CO2 Blok Natuna.
"Ada teknologi pemisahan CO2 dari gas, tapi itu pun mahal. Jadi keekonomian untuk CO2 sebesar itu belum bisa. Satu-satunya cara CO2-nya dipisahkan dan dimasukan lagi ke bumi. Artinya butuh sumur yang bisa menampung CO2 itu," papar Iwan.
GE sendiri sebenarnya punya teknologi yang untuk mengolah CO2 yang keluar besama gas. Tetapi turbin untuk membakar CO2 yang dimiliki GE belum bisa mengolah kandungan CO2 sebesar di Blok Natuna.
Maka masih harus dicari teknologi baru agar gas dari Natuna bisa diproduksi. "Kita punya turbin yang bisa bakar CO2 sampai 60%. Itu salah satu solusi, tapi bukan untuk Natuna," tutup Iwan. (ang/ang)











































