"Ini beauty contest, semuanya sama-sama cantik tapi kita harus memilih, akhirnya kita tetapkan GRR Tuban (bermitra) dengan Rosneft," kata Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto, dalam konferensi pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (26/5/2016).
Dwi menyebutkan bahwa ada 6 kriteria yang dinilai dalam proses lelang. Pertama adalah kemampuan memasok minyak mentah, kedua kemampuan keuangan untuk bangun kilang, ketiga pengalaman mengoperasikan kilang, keempat pengalaman investasi di luar negeri, kelima penguasaan teknologi, dan keenam adalah kecocokan dengan strategi Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dapat memenuhi 6 kriteria tersebut, Rosneft juga menawarkan keuntungan lain untuk Pertamina, yaitu kerja sama pada bisnis hulu migas Rusia dan alih teknologi kilang.
"Pertamina berkesempatan joint up stream di sana," tutur Dwi.
Nantinya, 45% minyak mentah untuk Kilang Tuban akan dipasok oleh Rosneft, sisanya terserah Pertamina.
"Sumber crude 45% dijanjikan Rosneft. 45% yang dari Rosneft juga dengan pricing terbaik," katanya.
Kilang Tuban direncanakan bisa mulai konstruksi tahun 2018 dan selesai 2021. Kapasitas produksinya 300.000 barel per hari (bph), seluruhnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan di pasar domestik.
"Ini menindaklanjuti arahan Presiden, kita akan mempercepat. BFS (Bankable Feasibility Studies) dan persiapan adalah di 2016 ini, 2017 bisa selesaikan engineering sehingga groundbreaking, EPC, tahun 2018. Targetnya 2021 sudah on stream," tutup Dwi. (feb/feb)











































