detikFinance berkesempatan untuk melihat dari dekat kapal pembangkit yang melego jangkar di laut persis di belakang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Amurang di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
Perjalanan darat dari Kota Manado, Ibu Kota Sulawesi Utara, menuju Amurang memakan waktu antara 1,5-2 jam. Untuk menuju ke lokasi kapal pembangkit harus melewati kawasan PLTU Amurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, disampaikan beberapa pengumuman singkat tentang prosedur selama di kapal 'Genset Raksasa', salah satunya hanya boleh mengambil gambar di lokasi yang diizinkan.
Setelah mengisi buku tamu, mengambil tanda pengenal tamu, dan helm, rombongan menyusuri jembatan besi di atas laut yang saat itu sedang surut dan kemudian turun untuk menaiki perahu menuju kapal. Jarak antara ujung jembatan dan lokasi kapal hanya sekitar 50 meter.
Tiba di kapal, rombongan disambut Nevzat Senlik, Plant Manager Karadeniz Powership. Sayangnya, rombongan hanya diizinkan untuk masuk ke ruang kontrol (control room). Di ruangan itu, ada beberapa pegawai asal Turki sedang mengamati kerja turbin dan generator melalui layar
komputer.
Mayoritas pegawai di Kapal Karadeniz adalah warga negara Turki. Hanya sekitar 3-5 orang pekerja asal Indonesia bekerja di kapal ini.
"Kami ada 58 orang pegawai asal Turki di kapal ini dan dibagi dalam 3 shift. Kami semua tinggal di kapal, makan di atas kapal," ujar Nevzat dalam bahasa Inggris.
Nevzat menjelaskan, Karadeniz Powership berkapasitas 120 megawatt (MW), dan dilengkapi 6 generator dan 1 turbin uap. Kapal ini memasok listrik melalui transmisi di PLTU Amurang.
Transmisi tersebut terhubung dengan sistem jaringan Sulawesi Utara, Tengah dan Gorontalo (Suluttenggo).
"Kami memberikan pasokan listrik sesuai permintaan dari PLN. Kemarin kami memasok 60 MW, dan sekarang sekitar 88 MW," terang Nevzat.
Selain menjelaskan cara kerja kapal tersebut memasok listrik. Nevzat juga mengatakan di kapal hanya menyajikan menu asal Turki yang dimasak oleh dua orang koki yang juga orang Turki. Bahan baku masakan dipasok dari langsung dari Turki, Jakarta, dan Manado.
"Kadang kami mencoba masakan lokal. Tapi karena pekerja di sini lebih banyak orang Turki, jadi kami makan masakan Turki. Pekerja lokal juga suka masakan Turki," tutur Nevzat.
Dia menambahkan, masa kerjanya di Indonesia selama 5 tahun sesuai dengan masa kontrak pengadaan listrik antara PLN dan Karadeniz Powership. Meski bekerja selama 5 tahun, dia mendapat jatah cuti yang dipakai untuk kembali ke Turki.
"Saya 2 bulan bekerja di Indonesia, 15 hari dapat cuti untuk pulang ke Turki. Setelah selesai cuti, kembali lagi ke Indonesia," tutur Nevzat yang pernah 5 tahun bekerja untuk Karadeniz Powership di Irak.
Pertemuan di kapal 'genset raksasa' berlangsung sekitar 20 menit. Selanjutnya, rombongan turun dari kapal, naik ke perahu, dan kembali ke kawasan PLTU Amurang. (hns/ang)











































