Hilangnya HVDC dikhawatirkan ESDM akan mengganggu pelaksanaan proyek 35.000 MW, sebab ada 3 pembangkit yang bisa batal kalau HVDC tak jadi dibangun, yaitu PLTU Sumsel 8, 9, dan 10.
Selain itu, ESDM ingin HVDC dibangun karena beban jaringan di Jawa sudah sangat maksimal, tetapi kebutuhan listrik tentu terus bertambah. Agar tidak overload, maka pembangkit mulut tambang dibangun di Sumatera Selatan, lalu listriknya dialirkan ke Jawa melalui HVDC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebutuhan listrik di Sumatera saat ini tumbuh pesat sekali, pertumbuhannya lebih tinggi dari Pulau Jawa. Saat pembangunan HVDC direncanakan dulu, tidak diperkirakan bahwa Sumatera akan berkembang secepat ini.
Sekarang daerah-daerah di Sumatera masih kekurangan listrik, banyak yang cadangannya kurang dari 10%, bahkan ada yang defisit. Tak logis kalau Sumatera saja masih kekurangan lalu listriknya dikirim ke Jawa melalui HVDC. Bisa-bisa industri di Sumatera mati akibat kekurangan listrik.
"Kalau dulu direncanakan Sumatera ngirim ke Jawa, sekarang Sumatera juga membutuhkan. Sumatera juga banyak industri yang membutuhkan kayak di Sei Mangkei, Kuala Tanjung butuh sekitar 400 MW, kemudian di Tanjung Siapi-api 1.000 MW, terus industri semen di Aceh butuh 30 MW, besar sekali," papar Amir saat ditemui di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Senin (30/5/2016).
Menurut Amir, pembangunan HVDC harus ditinjau ulang demi kelangsungan industri di Sumatera. "Sumatera membutuhkan energi besar, pertumbuhannya per tahun sekitar 7%. Pemerintah juga membentuk sentra-sentra industri, makanya kita coba review ulang," tukas dia.
Dia menambahkan, pembangunan PLTU Sumsel 8, 9, dan 10 tak akan batal hanya karena HVDC tak jadi dibangun. PLN ingin ketiga pembangkit itu tetap dibangun, tapi listriknya untuk Sumatera saja seluruhnya, tidak ada yang dikirim ke Jawa.
"Banyak sekali dibutuhkan di Sumatera, kita butuhkan betul, kalau ada transmisinya dibawa ke mana pun bisa," ujar Amir.
Pihaknya mengusulkan, kalau HVDC tetap dibangun sebaiknya tidak untuk mengalirkan listrik dari Sumatera ke Jawa, tapi sebaliknya listrik dari Jawa saja yang dikirim ke Sumatera. Listriknya bisa dari pembangkit-pembangkit di Jawa yang kapasitasnya sampai ribuan Mega Watt, misalnya PLTU Jawa 5.
"Di Jawa dibangun pembangkit, ada yang 2.000 MW di Tanjung Jati, juga di Cilacap, banyak sekali. Proyek 35.000 MW itu kan lebih dari 20.000 MW ada di Jawa, sisanya di luar Jawa. Kalau misalkan ada seperti itu, bisa jadi Jawa menyuplai ke Sumatera karena begitu besarnya," tutupnya. (ang/ang)










































