Belajar dari Jepang, ESDM Bikin Tarif Mahal untuk Energi Terbarukan

Belajar dari Jepang, ESDM Bikin Tarif Mahal untuk Energi Terbarukan

Michael Agustinus - detikFinance
Jumat, 03 Jun 2016 13:52 WIB
Belajar dari Jepang, ESDM Bikin Tarif Mahal untuk Energi Terbarukan
Foto: Dok. PLN
Jakarta - Feed in Tariff untuk energi terbarukan yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM tergolong tinggi, tak jarang memberatkan keuangan PT PLN (Persero). Ada alasan khusus di balik penetapan tarif tinggi untuk energi terbarukan ini.

Direktur Aneka Energi Kementerian ESDM, Maritje Hutapea, menjelaskan pihaknya belajar dari Jepang soal kebijakan tarif tinggi untuk energi terbarukan. Jepang berhasil menggarap potensi energi terbarukan setelah membuat tarif yang tinggi sehingga investor tertarik.

Tapi tarif yang tinggi hanya untuk sementara saja. Setelah bisnis energi terbarukan semakin berkembang, maka akan banyak inovasi yang muncul, penggunaannya juga makin meluas sehingga efisiensinya makin tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka setelah itu kebijakan tarif tinggi sudah tidak diperlukan lagi. Dalam jangka panjang, harga energi terbarukan akan semakin murah. Harga tinggi hanya diperlukan saat awal pengembangan saja.

"Di Jepang awalnya harga listrik PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) sangat tinggi agar banyak (investor) yang masuk. Lama-lama baru murah, harga tinggi ini hanya untuk periode tertentu. Teknologi energi terbarukan juga semakin murah, insentif bukan untuk selamanya. Feed in Tariff ini kita mengambil pengalaman dari negara yang berhasil mengembangkan energi terbarukan," papar Maritje, dalam diskusi dengan media di Kantor Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Saat ini, ESDM sedang fokus membuat regulasi-regulasi yang membuat pengembangan energi terbarukan menjadi ekonomis. Feed in Tariff untuk listrik dari tenaga surya dan angin akan segera diterbitkan.

"Sekarang kita memfokuskan segera mengeluarkan beberapa regulasi. Yang sudah keluar untuk PLTMH. Yang akan keluar untuk PLTS, sudah final touch, siap diteken menteri. PLTB juga kami siapkan, diskusi masih on going. Kita untuk semua regulasi selalu melibatkan PLN, nggak pernah meninggalkan PLN," ujarnya.

Upaya-upaya yang dilakukan ESDM, di antaranya pembuatan tarif yang mahal untuk energi terbarukan, dilakukan agar ketergantungan pada energi fosil bisa dikurangi. Ditargetkan tahun 2025 mendatang penggunaan energi terbarukan bisa mencapai 23% dari bauran energi.

"Kita sekarang sangat agresif mengeluarkan regulasi karena ini salah satu tools untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan. Kita target di 2025 ada 23% EBT, kita sudah susun di RUEN (Rencana Umum Energi Nasional)," pungkasnya. (wdl/wdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads