VP Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, mengungkapkan bahwa pengiriman solar ke Nunukan dilakukan dari Tarakan, perjalanan dengan pesawat. Perjalanan pengangkutan BBM memakan waktu 1 jam. Untuk uji coba tahap awal ini, Pertamina mengirim 1.000 liter solar.
"Sudah take off kemarin jam 11.41 WITA tiba di Krayan 12.55 WITA. Pengiriman perdana kemarin 1.000 liter. Biaya investasinya nggak begitu besar. Uji coba kita kirim solar 1.000 liter, biaya pengirimannya di bawah Rp 10.000/liter. Kita sewa, carter pesawat Susi Air," papar Wianda saat ditemui di Kilang Pertamina Balikpapan, Kamis (9/6/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() Pengiriman BBM memakai pesawat carter milik Susi Air di perbatasan RI-Malaysia |
Kebutuhan solar di Krayan diperkirakan mencapai 8.000 liter/hari. Rencananya, pada tahap awal ini pesawat yang disewa dari Susi Air dan dioperasikan Pelita Air Service akan mengirim 4.000 liter solar setiap hari ke sana.
"Kita akan kirim per hari 4.000 liter/hari, kebutuhannya kira-kira 2 kali lipat itu. Ini pesawat Air Tracktor, nanti dioperasikan oleh Pelita Air Service, pesawatnya carter," tukas dia.
Pengiriman solar ke daerah terpencil dengan menggunakan pesawat juga akan dilakukan ke sejumlah daerah lain, misalnya ke Wamena, Papua.
"Kalau di Papua itu biaya pengirimannya saja Rp 17.500/liter, di Puncak Jaya hampir Rp 25.000/liter. Kalau sekarang hasilnya bagus, kita replikasi ke Indonesia Timur, biar pasokan BBM ke sana lebih terjamin, tidak harus numpang pesawat yang membawa sembako dan sering perawatan. Jadi pesawat yang dedicated untuk BBM membuat pasokan lebih terjamin, harga bisa lebih terjangkau," tutupnya. (feb/feb)












































